Pengungsi, Dari Manakah Mereka Datang dan Mengapa Mereka Berada di Sini?

Minggu, Desember 21st, 2014
bermain-bola-web

Bermain bola adalah aktivitas yang menyegarkan bagi Pengungsi

Dua orang suku Hazara yang berbeda asal-usul bernama Ali dan Hasan (bukan nama sebenarnya) memiliki minat yang hampir serupa. Ali menyukai sinematrografi sedangkan Hasan memiliki hobi fotografi. Mereka tiba di Yogyakarta setelah menempuh perjalanan panjang dengan alasan kuat untuk pergi meninggalkan rumah dan keluarga, dan menempuh rute perjalanan yang belum pasti. Orang muda seperti mereka pada umumnya akan meninggalkan kampung halaman untuk menggapai cita-cita atau untuk belajar, bekerja maupun membangun keluarga. Namun satu-satunya tujuan yang mereka miliki saat ini adalah tiba di daratan Australia secara selamat. Tak pernah terkira bahwa perjalanan mereka akan menjadi sedemikian berliku.

Ali adalah seorang jurnalis dari sebuah stasiun televisi di kota asalnya. Sehari-harinya dia berkutat dengan peralatan sound system, kamera dan pemberitaan meskipun harus menghadapi resiko. Dia banyak mengulas tentang kehidupan suku Hazara di Afghanistan. Tuntutan kerja juga membuatnya sering bepergian ke tempat-tempat yang bersejarah bagi suku Hazara. Tak heran bila dia tahu persis awal mula sejarah kaum Hazara dan perkembangan kebudayaannya. Tak kenal maka tak sayang, orang bilang. Begitulah pengalaman Ali. Semakin mengetahui seluk beluk sukunya, semakin sayanglah dia pada suku Hazara. Ironisnya, hal ini jugalah yang membuat jiwanya terancam dan terpaksa meninggalkan kampung halaman. Resiko jurnalis yang ingin memberitakan sesuatu yang bermakna kepada dunia menimpa dirinya.

Di suatu malam dalam perjalanan dari tempat kerja menuju ke rumah, sekelompok orang bersenjata menghadangnya. Hanya tinggal beberapa meter saja dari pekarangan rumahnya, dalam sekejap kepalanya sudah terbekap oleh sebuah karung, sementara tangannya diikat di belakang dan harus mengikuti perintah yang diberikan. Tidak ada pilihan selain menurut dan menunggu kesempatan untuk melarikan diri. Saat kesempatan itu ada, dia memutuskan untuk pergi dan mengingatkan istri dan anak-anaknya agar keluar dari rumah dan ikut tinggal bersama saudara. Karena mengetahui bahwa ia menjadi target yang dicari, maka ia segera menitipkan seluruh keluarga kepada saudaranya tanpa tahu kapan mereka dapat bertemu kembali.

Ali terpaksa meninggalkan negerinya dan tiba di Indonesia. Dia ditahan di Rumah Detensi Imigrasi Tanjung Pinang sampai akhirnya mendapatkan status Pengungsi yang membawanya terbang ke kota Yogyakarta. Setiap harinya dia hanya memikirkan peristiwa yang telah mengubah hidupnya dan keputusan yang diambilnya beberapa tahun yang lalu. Ia sangat sedih atas kondisi tanah airnya, namun ia tetap ingin menceritakan sejarah kaum Hazara kepada siapapun yang bersedia mendengarkannya. Baginya, itulah yang tetap istimewa. Itulah pekerjaan yang dicintainya dan yang membuatnya terpaksa kehilangan keluarganya sendiri. “Our culture is very beautiful. I wish to be a bird so that I can fly to send message of peace to all people in the world.” Siapapun yang mengenal Ali akan tahu, apabila kelak ada kedamaian di muka bumi kelahirannya, maka dialah orang pertama yang akan kembali ke sana meskipun kehidupan nyaman di Australia begitu menjanjikan.

Hasan seorang pemuda yang terpaut empat tahun lebih muda darinya juga berangkat dengan tujuan dan alasan yang sama, Australia. Mengapa? Karena dia sudah tidak lagi melihat secercah harapan akan masa depan yang lebih baik di Karachi, Pakistan, tempat tinggalnya. Orang Hazara harus mengambil resiko kematian apabila harus keluar bepergian dari wilayahnya. Ayah Hasan adalah seorang yang ternama karena kebaikannya. Banyak orang Hazara datang dari tempat lain ke rumah Hasan untuk meminta nasihat dari ayahnya. Karena ayahnya sudah semakin tua, Hasanlah yang biasa mengantar orang-orang ini memenuhi kebutuhan mereka, yaitu mengantar pasien ke rumah sakit dan mengurus segala proses perawatan.

Dengan berbekal sepeda motor, ia membantu orang lain secara ringan tangan dan penuh pengertian. Namun di lubuk hatinya dia ingin menjadi seorang yang lebih berguna. Dia mulai belajar bahasa Inggris di sebuah perguruan tinggi. Dia mulai memimpikan kehidupan yang aman setiap kali ia mendengar bahaya yang mengancam dirinya dan orang Hazara, yang berbeda dengan etnis lain. Karena alasan ras, bepergian menggunakan bus dapat berakhir pada pembunuhan tanpa ampun dan tanpa kecuali. Sebelum ia meninggalkan Pakistan, pembunuhan dan bom kian gencar terjadi di Pakistan. Ras merekalah yang membuat mereka diburu. Salahkah mereka terlahir dengan wajah dan mata yang berbeda? Ia tak bisa mengerti mengapa perbedaan menjadi masalah yang menentukan hidup mati seseorang.

Atas bantuan seorang agen, Hasan memutuskan untuk melarikan diri dengan tujuan yang jelas namun tanpa kejelasan rute perjalanan. Sebagian besar perjalanannya adalah di Indonesia dan menunggu petunjuk selanjutnya. Beberapa kali ia tersesat di pedalaman Sumatra. Akhirnya dia berhasil juga naik perahu dengan harapan akan berlabuh di daratan Australia. Namun di luar dugaan, perahu itu karam dan semua awak kapalnya harus terapung-apung di perairan luas Samudra Hindia.

Dia dan dua temannya berusaha berenang mendekati suara kapal yang melintas. Namun kapal itu tidak pernah berpaling. Di antara teriakan minta tolong, dia kehilangan kedua teman yang tenggelam pada hari itu. Teriakan mereka menghilang, lalu diikuti oleh senyap dan maut yang tidak pernah tampak wujudnya. “I only waited my turn,” ucapnya mengenang. Tiga hari tiga malam dia terapung-apung sampai kapal nelayan Indonesia lewat dan menyelamatkannya. Kulitnya yang terbakar tidak juga membuat para petugas imigrasi segera membawanya ke rumah sakit melainkan menjebloskannya ke tahanan imigrasi di Jakarta. Dari 33 Pencari Suaka yang berlayar ke Australia itu, dialah satu-satunya yang ditemukan selamat. Dia harus menjadi saksi atas kematian teman-temannya di tengah laut satu demi satu, tanpa isakan tangis keluarga dan taburan bunga pelayat, kecuali deburan ombak dan aroma asin laut. Pengalaman itu kini seakan menguatkan dirinya untuk teguh melanjutkan cita-cita, memulai kehidupan baru dan membuktikan bahwa kesempatan kedua yang ia peroleh dalam hidupnya tidak akan sia-sia.

Sofi Damayanti

Ali menjadi penghuni rumah komunitas Sewon menunggu proses interview dari Kedutaan Australia.

Hasan sudah mendapatkan visa dan berangkat ke Perth, Australia pada tanggal 30 April 2014.

Australia: menutup pintu di hadapan krisis kemanusiaan global

Yogyakarta, 20 November 2014. Dengan rasa sedih yang mendalam, Jesuit Refugee Service mengamati langkah mundur pemerintah Australia yang mengeluarkan sebuah perubahan kebijakan terhadap mereka yang sedang mencari perlindungan internasional di kawasan Asia Tenggara. Pada 18 November 2014, pemerintah Australia mengumumkan … Lanjutkan baca

Tanggap Darurat Gunung Kelud

Bersama dengan Komunitas Relawan Jogja Bersatu, JRS Indonesia mengambil bagian dalam respon emergency Gunung Kelud. Komunitas Relawan Jogja Bersatu sendiri adalah sebuah komunitas yang terdiri dari berbagai kelompok masyarakat, baik individu maupun mahasiswa di wilayah Yogyakarta, yang bersinergi dalam respon kebencanaan. Mereka hadir di lapangan untuk menemani, memberikan bantuan konseling, dan menyalurkan barang-barang yang sangat dibutuhkan. Dalam hal ini, JRS Indonesia memberikan support dana untuk kebutuhan operasional dan belanja barang, dan kehadiran di lapangan selama 2 hari, yaitu di tanggal 26-27 Februari 2014. Lanjutkan baca

33 Tahun Berlalu, Kebutuhan Pengungsi Menjadi Lebih Besar daripada Sebelumnya

Merayakan 33 tahun berada bersama dan melayani pengungsi, JRS ingin mendorong Anda untuk menebarkan keramahtamahanan dan dukungan kepada saudara-saudara kita yang ada di sini, yakni para pengungsi yang sedang mencari perlindungan. Lanjutkan baca

Vatikan: Paus Fransiskus Menyerukan Keramahtamahan dan Keadilan dalam Kunjungan ke Jesuit Refugee Service

“Memberikan sandwich itu tidaklah cukup jika tidak disertai dengan kemungkinan untuk belajar berdiri di atas dua kaki sendiri. Amal kasih yang tidak mengubah situasi orang miskin, tidaklah cukup. Belas kasih sejati, yang telah diberikan dan diajarkan oleh Allah kepada kita, menuntut keadilan dan cara agar orang miskin dapat menemukan jalan keluar dari kemiskinan.” Lanjutkan baca

JRS Bergabung dalam Seruan Lintas-Iman bagi Perlindungan terhadap Pengungsi

Jesuit Refugee Service bersama dengan badan PBB urusan Pengungsi (UNHCR) dan perwakilan dari sejumlah organisasi berbasis agama menyerukan perlindungan yang lebih besar bagi para Pengungsi.

Deklarasi multi bahasa setebal 16 halaman, yang dikenal sebagai sebuah Penegasan tentang Keramahan, merupakan yang pertama kali melibatkan UNHCR dan spektrum organisasi-organisasi berbasis agama. Lanjutkan baca

Penemanan JRS Indonesia bagi Pengungsi dan Pencari Suaka 2013

Pada bulan Mei 2013 JRS membantu SUAKA menyelenggarakan pertemuan singkat dengan para Diplomat tentang situasi Pengungsi dan Pencari Suaka di Indonesia. SUAKA dan JRS terlibat dalam Diskusi Kelompok Terfokus di kantor Komisi Nasional Hak Asasi Manusia yang mendiskusikan dan mendorong agar Pemerintah Indonesia meratifikasi konvensi tentang Status Pengungsi dan protokolnya. SUAKA terus memberikan bantuan hukum dan penemanan kepada Pencari Suaka yang sebagian besar merupakan rujukan dari JRS dalam proses Penentuan Status Pengungsi mereka. Saat ini system rujukan yang lebih komprehensif telah dikembangkan dalam kerjasama antara JRS dan SUAKA. Lanjutkan baca

Futsal

Minggu, 9 September 2012, malam. Dua belas orang laki-laki Afrika berjalan menuju ke suatu toko yang agak besar di Cipayung. Mereka itu pencari suaka yang berasal dari Somalia, Sudan, dan Ethiopia. Tempat tujuan mereka ada di lantai tiga di toko … Lanjutkan baca

Ulang tahun JRS Indonesia ke-31

Yogyakarta, 14 November 2011 – 31 tahun bukanlah waktu yang pendek untuk mengukur kehidupan. Selama 31 tahun perjalanan, JRS bangga akan warisan semangat dari Pedro Arrupe yang menggugah keprihatinan orang akan adanya pengungsi. Tahun ini, JRS Indonesia merayakan ulang tahunnya yang ke-31 dengan banyak cara yang sederhana. Lanjutkan baca

Hari Pengungsi Sedunia 2009

Dalam peringatan Hari Pengungsi Sedunia tanggal 20 Juni yang lalu, sekitar 50 orang termasuk dosen dan mahasiswa dari Indonesia, Thailand dan Burma/Myanmar berkumpul di Universitas Sanata Dharma Yogyakarta atas undangan JRS untuk menyaksikan sebuah film yang menggambarkan pengalaman dan tantangan yang dihadapi oleh para pengungsi di negara asal mereka dan di negara suaka (Malaysia). “Secara pribadi saya menghargai semua orang yang membantu mereka (pengungsi) dan menerimanya di negara mereka… mereka ini melarikan diri dan suara mereka menyentuh setiap kita,” ujar Lorence, mahasiswa asal Myanmar/Burma yang masih tersentuh dengan kisah yang disampaikan lewat film tersebut. Lanjutkan baca