Perjalanan untuk Menemukan Harapan

Rabu, Agustus 12th, 2015
Keyhand Farahmand Photo oleh of Verity Chambers/Sydney TAFE Media

Keyhand Farahmand
Photo oleh of Verity Chambers/Sydney TAFE Media

Namaku Keyhan. Aku adalah seorang pengungsi Hazara dari Afganishtan yang sekarang tinggal di Australia. Sebelum sampai di sini, aku berada di Indonesia selama 3 tahun dan sempat tinggal di beberapa tempat yang tak akan pernah kulupakan.

Aku datang dari negara dengan sejarah konflik yang panjang dan jutaan warganya kini tersebar sebagai pengungsi di berbagai negara di dunia. Jejak-jejak pengungsi Hazara dapat ditelusuri di berbagai negara berkembang dan sebagian dari kami datang ke Indonesia untuk mencari jalan menuju Australia. Izinkan aku menceritakan kisah hidupku, perjalananku dalam menemukan harapan.

Pertama kali aku tiba di Sumatra, tempat yang sering dilewati para pencari suaka. Perjalanan menuju Sumatra adalah salah satu bagian paling sulit dan berbahaya dalam hidupku. Berlayar berhari-hari bersama 12 orang lainnya dalam kapal nelayan kecil, tanpa cukup makanan dan air, ataupun toilet. Rasanya seperti di neraka. Aku ingat sekali saat turun dari kapal dan menginjakkan kaki ke pasir, aku hampir tak dapat mengendalikan diri dan akhirnya terjatuh.

Dari Sumatra, aku dibawa ke Jakarta, lalu ke Surabaya. Setelah 10 hari di Surabaya, aku memulai perjalanan melewati Samudera Hindia menuju Australia. Setelah melewati 4 hari yang terasa begitu panjang, terombang-ambing dan mabuk laut, badai menghantam kapal yang kami tumpangi. Kami hanya bisa berusaha bertahan. Rasanya sungguh mengerikan, tak mungkin ada orang yang mau menjalani bahaya macam ini hanya untuk sekedar bertualang. Namun kami tak punya pilihan lain. Kami hanya ingin mencari keselamatan dan tempat yang aman untuk hidup.

Keesokan harinya, kami ditemukan oleh otoritas Indonesia, lalu mereka menahan kami dan membawa kami kembali ke Surabaya. Aku pun ditahan di Rumah Detensi Imigrasi Surabaya. Sungguh sulit hidup terkekang di sana. Semua serba dibatasi. Kami tidak diizinkan memakai sepatu, menghubungi keluarga, bahkan tak boleh bercukur.

Setelah hampir setahun, akhirnya aku dipindahkan ke Yogyakarta. Pengalamanku sebagai pengungsi di Yogyakarta sangatlah berbeda dengan apa yang kualami di kota lain sebelumnya. Berbagai pengalaman buruk membuatku tak lagi percaya bahwa masih ada orang baik di dunia. Kalaupun ada yang baik, biasanya karena mereka menginginkan sesuatu. Namun Yogyakarta dan warganya mengubah pandanganku dan mengajarkan aku untuk berpikir lebih positif. Semua temanku dari JRS dan IOM punya peran spesial dalam membangun pondasi hidupku. Tanpa bantuan mereka, aku tak mungkin berjuang sendiri.

Pada bulan Februari 2013, aku mendapat kabar buruk, seorang sepupuku terbunuh karena ledakan bom di Quetta, Pakistan dan dua anggota keluarga lainnya terluka. Selain itu, belum ada kabar dari UNHCR dan Kedutaan Besar Australia mengenai aplikasi suaka yang kuajukan. Aku sungguh tertekan dan seringkali muncul pikiran buruk dalam benakku. Namun bantuan dan penemanan yang JRS dan teman-teman berikan sangatlah membantuku dalam menjalani hidup.

Berbagai program yang disediakan JRS untuk pengungsi sangatlah bermanfaat. Bagus sekali ada organisasi semacam ini di Yogyakarta. Karena pengungsi tak mungkin mendapat akses ke pendidikan formal, amatlah baik bahwa JRS memberi kesempatan bagi kami untuk setidaknya belajar bahasa Inggris. Aku pikir baik jika ada kursus bahasa Indonesia bagi pengungsi, juga untuk memperkenalkan kebudayaan dan sejarah Indonesia bagi mereka.

Saat di Yogyakarta, aku mendapat kesempatan berkunjung ke Kaliurang, Museum Gunung Merapi, dan Museum Keraton. Aku belajar mengenai kebudayaan Indonesia, sejarah, dan mengenal keindahan alamnya dari kunjungan-kunjungan tersebut. Dari semua tempat yang pernah kukunjungi, candi Borobudur dan Prambananlah yang paling aku sukai.

Setelah berbulan-bulan di Yogyakarta, aplikasiku akhirnya dikabulkan dan aku berangkat ke Australia. Aku mengambil program diploma Layar dan Media di Sydney TAFE College selama satu tahun. Dengan ijazah diploma tersebut, aku mendaftar ke universitas. Berkat bantuan pemerintah Australia, aku mendapat beasiswa penuh dari University of Technology Sydney. Saat ini aku sangat menikmati tahun pertamaku belajar Seni dan Komunikasi diFakultas Seni dan Produksi Media. Dilahirkan di keluarga yang tidak berpendidikan, aku adalah generasi pertama di keluarga yang mendapat kesempatan untuk berkecimpung di dunia akademik.

Aku sungguh bersyukur. Aku juga sangat berterimakasih pada mereka yang telah menolongku. Orang-orang di seluruh dunia punya berbagai pandangan yang sangat berbeda mengenai pengungsi. Sayangnya kebanyakan malah menentang atau bahkan tidak peduli pada pengungsi. Namun kami, para pengungsi dan pencari suaka, adalah manusia juga. Aku sungguh berharap ada lebih banyak orang yang peduli pada kemanusiaan, bersikap lebih baik dalam menanggapi isu pengungsi dan memperlakukan kami sebagai sesama manusia.

Keyhan Farahmand

Australia: menutup pintu di hadapan krisis kemanusiaan global

Yogyakarta, 20 November 2014. Dengan rasa sedih yang mendalam, Jesuit Refugee Service mengamati langkah mundur pemerintah Australia yang mengeluarkan sebuah perubahan kebijakan terhadap mereka yang sedang mencari perlindungan internasional di kawasan Asia Tenggara. Pada 18 November 2014, pemerintah Australia mengumumkan … Lanjutkan baca

Tanggap Darurat Gunung Kelud

Bersama dengan Komunitas Relawan Jogja Bersatu, JRS Indonesia mengambil bagian dalam respon emergency Gunung Kelud. Komunitas Relawan Jogja Bersatu sendiri adalah sebuah komunitas yang terdiri dari berbagai kelompok masyarakat, baik individu maupun mahasiswa di wilayah Yogyakarta, yang bersinergi dalam respon kebencanaan. Mereka hadir di lapangan untuk menemani, memberikan bantuan konseling, dan menyalurkan barang-barang yang sangat dibutuhkan. Dalam hal ini, JRS Indonesia memberikan support dana untuk kebutuhan operasional dan belanja barang, dan kehadiran di lapangan selama 2 hari, yaitu di tanggal 26-27 Februari 2014. Lanjutkan baca

33 Tahun Berlalu, Kebutuhan Pengungsi Menjadi Lebih Besar daripada Sebelumnya

Merayakan 33 tahun berada bersama dan melayani pengungsi, JRS ingin mendorong Anda untuk menebarkan keramahtamahanan dan dukungan kepada saudara-saudara kita yang ada di sini, yakni para pengungsi yang sedang mencari perlindungan. Lanjutkan baca

Vatikan: Paus Fransiskus Menyerukan Keramahtamahan dan Keadilan dalam Kunjungan ke Jesuit Refugee Service

“Memberikan sandwich itu tidaklah cukup jika tidak disertai dengan kemungkinan untuk belajar berdiri di atas dua kaki sendiri. Amal kasih yang tidak mengubah situasi orang miskin, tidaklah cukup. Belas kasih sejati, yang telah diberikan dan diajarkan oleh Allah kepada kita, menuntut keadilan dan cara agar orang miskin dapat menemukan jalan keluar dari kemiskinan.” Lanjutkan baca

JRS Bergabung dalam Seruan Lintas-Iman bagi Perlindungan terhadap Pengungsi

Jesuit Refugee Service bersama dengan badan PBB urusan Pengungsi (UNHCR) dan perwakilan dari sejumlah organisasi berbasis agama menyerukan perlindungan yang lebih besar bagi para Pengungsi.

Deklarasi multi bahasa setebal 16 halaman, yang dikenal sebagai sebuah Penegasan tentang Keramahan, merupakan yang pertama kali melibatkan UNHCR dan spektrum organisasi-organisasi berbasis agama. Lanjutkan baca

Penemanan JRS Indonesia bagi Pengungsi dan Pencari Suaka 2013

Pada bulan Mei 2013 JRS membantu SUAKA menyelenggarakan pertemuan singkat dengan para Diplomat tentang situasi Pengungsi dan Pencari Suaka di Indonesia. SUAKA dan JRS terlibat dalam Diskusi Kelompok Terfokus di kantor Komisi Nasional Hak Asasi Manusia yang mendiskusikan dan mendorong agar Pemerintah Indonesia meratifikasi konvensi tentang Status Pengungsi dan protokolnya. SUAKA terus memberikan bantuan hukum dan penemanan kepada Pencari Suaka yang sebagian besar merupakan rujukan dari JRS dalam proses Penentuan Status Pengungsi mereka. Saat ini system rujukan yang lebih komprehensif telah dikembangkan dalam kerjasama antara JRS dan SUAKA. Lanjutkan baca

Futsal

Minggu, 9 September 2012, malam. Dua belas orang laki-laki Afrika berjalan menuju ke suatu toko yang agak besar di Cipayung. Mereka itu pencari suaka yang berasal dari Somalia, Sudan, dan Ethiopia. Tempat tujuan mereka ada di lantai tiga di toko … Lanjutkan baca

Ulang tahun JRS Indonesia ke-31

Yogyakarta, 14 November 2011 – 31 tahun bukanlah waktu yang pendek untuk mengukur kehidupan. Selama 31 tahun perjalanan, JRS bangga akan warisan semangat dari Pedro Arrupe yang menggugah keprihatinan orang akan adanya pengungsi. Tahun ini, JRS Indonesia merayakan ulang tahunnya yang ke-31 dengan banyak cara yang sederhana. Lanjutkan baca

Hari Pengungsi Sedunia 2009

Dalam peringatan Hari Pengungsi Sedunia tanggal 20 Juni yang lalu, sekitar 50 orang termasuk dosen dan mahasiswa dari Indonesia, Thailand dan Burma/Myanmar berkumpul di Universitas Sanata Dharma Yogyakarta atas undangan JRS untuk menyaksikan sebuah film yang menggambarkan pengalaman dan tantangan yang dihadapi oleh para pengungsi di negara asal mereka dan di negara suaka (Malaysia). “Secara pribadi saya menghargai semua orang yang membantu mereka (pengungsi) dan menerimanya di negara mereka… mereka ini melarikan diri dan suara mereka menyentuh setiap kita,” ujar Lorence, mahasiswa asal Myanmar/Burma yang masih tersentuh dengan kisah yang disampaikan lewat film tersebut. Lanjutkan baca