Para Pengungsi adalah bagian dari Dunia Kita

Jumat, Juni 20th, 2014

Pada tanggal 20 Juni lagi-lagi dunia menyaksikan Hari Pengungsi Sedunia, hari yang membangkitkan kesadaran tentang situasi jutaan orang yang terpaksa meninggalkan negeri mereka demi mencari keselamatan. Hari ini bukanlah hanya merupakan saat untuk merefleksikan penyebab pengungsian pada tahun-tahun yang lalu, yang telah menyaksikan banyak konflik, penganiayaan dan intoleransi, atau kondisi buruk yang dialami oleh mereka yang berada di tenda-tenda pengungsian atau rumah detensi yang sumpek, atau dalam menempuh perjalanan berbahaya melintasi batas negeri demi keselamatan, yang ternyata justru hanya menjumpai sambutan yang penuh kecurigaan dan tak bersahabat di negara-negara tempat mereka mencari perlindungan. Hari ini juga merupakan saat untuk mengingat kembali bahwa begitu banyak Pengungsi telah ikut membentuk dunia ini menjadi seperti sekarang ini dan bahwa banyak pengungsi telah banyak berkontribusi bagi kehidupan kita masing-masing baik melalui cara yang sederhana maupun yang luar biasa.

Ketika melihat nama-nama Pengungsi yang masyur dalam daftar UNHCR[i], saya menemukan banyak seniman, penulis, ilmuwan dan bahkan tokoh politik yang telah mengukir dunia tempat kita hidup sekarang. Seniman music seperti Bob Marley yang melarikan diri dari Jamaica selama terjadi kekerasan politis, Frederic Chopin yang meninggalkan Polandia, Gil Gilberto, Freddy Mercury adalah para pengungsi sebagaimana musisi kontemporer seperti Mika (Lebanon) atau Gloria Estephan yang adalah anak seorang Pengungsi dari Kuba. Para penulis seperti Milan Kundera, Isabel Allende, Victor Hugo dan Thomas Mann pemenang Hadiah Nobel Perdamaian, seniman seperti Marc Chagal dan Wassily Kandinsky, actor seperti Jackie Chan terpaksa meninggalkan negeri asal mereka untuk mencari keselamatan. Pertanyaan yang muncul adalah apakah yang akan terjadi apabila kita mengusir mereka ini ketika memasuki batas wilayah kita? Bagaimana nasib Freddy Mercury dan Jackie Chan jika dahulu kita mengusir mereka?

Kemungkinan menjadi terkenal dan sukses sebaiknya tidak mempengaruhi keputusan untuk menerima dan menyambut mereka yang mencari keselamatan dan perlindungan dari penganiayaan. Para sahabat kita yang ramah, pemilik rumah makan atau juru masak yang menyediakan kesempatan kuliner telah menyumbangkan sesuatu yang berarti dalam hidup kita. “Di tengah situasi yang sulit, selalu tersedia peluang” kata salah seorang Pengungsi yang sangat terkenal di dunia, Albert Einstein pada suatu saat, yang hanyalah salah satu dari begitu banyak filsuf dan ilmuwan Pengungsi lain seperti Sigmund Freud, Karl Popper, Hanna Arendt dan Friederich Nietzsche. Sepantasnya kita memanfaatkan Hari Pengungsi Sedunia ini untuk merefleksikan peluang-peluang kecil maupun besar yang dianugerahkan kepada kita dengan menyambut para Pengungsi di antara kita karena penyambutan ini bukan hanya merupakan peluang bagi mereka untuk menjadi aman melainkan juga merupakan peluang bagi kita dan masa depan kita.

Pada pertengahan tahun 2013 lebih dari 15.000 warga negara Indonesia hidup sebagai Pencari Suaka maupun Pengungsi di negara-negara lain.[ii]

“Perubahan sikap pribadi terhadap kaum migran dan pengungsi sungguh diperlukan, yakni perubahan dari sikap defensif dan takut, dari ketidakpedulian dan marjinalisasi – yang merupakan segala tipikal budaya membuang atau menyingkirkan – menuju sikap yang didasari oleh budaya perjumpaan, sebagai satu-satunya budaya yang mampu membangun dunia yang lebih baik, lebih adil, dan lebih bersahabat” Demikianlah pesan Paus Fransiskus pada hari Pengungsi Sedunia 2014.[iii]

Australia: menutup pintu di hadapan krisis kemanusiaan global

Yogyakarta, 20 November 2014. Dengan rasa sedih yang mendalam, Jesuit Refugee Service mengamati langkah mundur pemerintah Australia yang mengeluarkan sebuah perubahan kebijakan terhadap mereka yang sedang mencari perlindungan internasional di kawasan Asia Tenggara. Pada 18 November 2014, pemerintah Australia mengumumkan … Lanjutkan baca

Tanggap Darurat Gunung Kelud

Bersama dengan Komunitas Relawan Jogja Bersatu, JRS Indonesia mengambil bagian dalam respon emergency Gunung Kelud. Komunitas Relawan Jogja Bersatu sendiri adalah sebuah komunitas yang terdiri dari berbagai kelompok masyarakat, baik individu maupun mahasiswa di wilayah Yogyakarta, yang bersinergi dalam respon kebencanaan. Mereka hadir di lapangan untuk menemani, memberikan bantuan konseling, dan menyalurkan barang-barang yang sangat dibutuhkan. Dalam hal ini, JRS Indonesia memberikan support dana untuk kebutuhan operasional dan belanja barang, dan kehadiran di lapangan selama 2 hari, yaitu di tanggal 26-27 Februari 2014. Lanjutkan baca

33 Tahun Berlalu, Kebutuhan Pengungsi Menjadi Lebih Besar daripada Sebelumnya

Merayakan 33 tahun berada bersama dan melayani pengungsi, JRS ingin mendorong Anda untuk menebarkan keramahtamahanan dan dukungan kepada saudara-saudara kita yang ada di sini, yakni para pengungsi yang sedang mencari perlindungan. Lanjutkan baca

Vatikan: Paus Fransiskus Menyerukan Keramahtamahan dan Keadilan dalam Kunjungan ke Jesuit Refugee Service

“Memberikan sandwich itu tidaklah cukup jika tidak disertai dengan kemungkinan untuk belajar berdiri di atas dua kaki sendiri. Amal kasih yang tidak mengubah situasi orang miskin, tidaklah cukup. Belas kasih sejati, yang telah diberikan dan diajarkan oleh Allah kepada kita, menuntut keadilan dan cara agar orang miskin dapat menemukan jalan keluar dari kemiskinan.” Lanjutkan baca

JRS Bergabung dalam Seruan Lintas-Iman bagi Perlindungan terhadap Pengungsi

Jesuit Refugee Service bersama dengan badan PBB urusan Pengungsi (UNHCR) dan perwakilan dari sejumlah organisasi berbasis agama menyerukan perlindungan yang lebih besar bagi para Pengungsi.

Deklarasi multi bahasa setebal 16 halaman, yang dikenal sebagai sebuah Penegasan tentang Keramahan, merupakan yang pertama kali melibatkan UNHCR dan spektrum organisasi-organisasi berbasis agama. Lanjutkan baca

Penemanan JRS Indonesia bagi Pengungsi dan Pencari Suaka 2013

Pada bulan Mei 2013 JRS membantu SUAKA menyelenggarakan pertemuan singkat dengan para Diplomat tentang situasi Pengungsi dan Pencari Suaka di Indonesia. SUAKA dan JRS terlibat dalam Diskusi Kelompok Terfokus di kantor Komisi Nasional Hak Asasi Manusia yang mendiskusikan dan mendorong agar Pemerintah Indonesia meratifikasi konvensi tentang Status Pengungsi dan protokolnya. SUAKA terus memberikan bantuan hukum dan penemanan kepada Pencari Suaka yang sebagian besar merupakan rujukan dari JRS dalam proses Penentuan Status Pengungsi mereka. Saat ini system rujukan yang lebih komprehensif telah dikembangkan dalam kerjasama antara JRS dan SUAKA. Lanjutkan baca

Futsal

Minggu, 9 September 2012, malam. Dua belas orang laki-laki Afrika berjalan menuju ke suatu toko yang agak besar di Cipayung. Mereka itu pencari suaka yang berasal dari Somalia, Sudan, dan Ethiopia. Tempat tujuan mereka ada di lantai tiga di toko … Lanjutkan baca

Ulang tahun JRS Indonesia ke-31

Yogyakarta, 14 November 2011 – 31 tahun bukanlah waktu yang pendek untuk mengukur kehidupan. Selama 31 tahun perjalanan, JRS bangga akan warisan semangat dari Pedro Arrupe yang menggugah keprihatinan orang akan adanya pengungsi. Tahun ini, JRS Indonesia merayakan ulang tahunnya yang ke-31 dengan banyak cara yang sederhana. Lanjutkan baca

Hari Pengungsi Sedunia 2009

Dalam peringatan Hari Pengungsi Sedunia tanggal 20 Juni yang lalu, sekitar 50 orang termasuk dosen dan mahasiswa dari Indonesia, Thailand dan Burma/Myanmar berkumpul di Universitas Sanata Dharma Yogyakarta atas undangan JRS untuk menyaksikan sebuah film yang menggambarkan pengalaman dan tantangan yang dihadapi oleh para pengungsi di negara asal mereka dan di negara suaka (Malaysia). “Secara pribadi saya menghargai semua orang yang membantu mereka (pengungsi) dan menerimanya di negara mereka… mereka ini melarikan diri dan suara mereka menyentuh setiap kita,” ujar Lorence, mahasiswa asal Myanmar/Burma yang masih tersentuh dengan kisah yang disampaikan lewat film tersebut. Lanjutkan baca