Satu Perempuan Saja, Sudah Terlalu Banyak!

Jumat, September 27th, 2013

Perempuan Pencari Suaka yang tinggal di komunitas

Qamariah as-Sabiha lahir sebagai seorang anak dari sebuah suku minoritas. Ia tumbuh di sebuah desa di wilayah dataran tinggi di Ethiopia. Wilayah itu lebih banyak dihuni oleh orang-orang Somalia. Pada umur 15 tahun, ia dilarikan ke Kenya demi menyelamatkan hidupnya dari ancaman perkosaan dan pembunuhan yang melanda wilayahnya. Ayah dan lima saudara laki-lakinya telah terbunuh dalam drama penembakan yang terjadi di depan matanya sebelum ia mengungsi. Ibunya telah ditangkap dan dijebloskan ke dalam penjara. dan tak diketahui nasibnya sampai saat ini. Ia sama sekali belum pernah melihat ibunya lagi dan khawatir kalau-kalau tak akan pernah melihatnya lagi.

Semua tetangga saya mengalami kekerasan fisik, terutama perempuan. Mereka diperkosa. Banyak lelaki ditembak dan dibunuh. Masyarakat biasa sama sekali tidak mendapatkan perlindungan,” kata Qamariah yang menggambarkan ancaman nyata di negerinya.

Konflik dan kekerasan yang terjadi di negerinya telah mengakibatkan penderitaan dan kematian bagi banyak warga sipil. Masyarakat biasa, baik laki-laki maupun perempuan, sering menjadi korban tanpa alasan yang jelas. Kaum lelaki dewasa seringkali menghadapi tuduhan politik yang tak beralasan dan menyebabkan kematian baginya. Kaum perempuan dan anak-anak tak pernah mendapatkan perlindungan dan selalu rentan terhadap ancaman penganiayaan maupun perkosaan.

Suatu hari, orang-orang bersenjata mendatangi rumah saya. Mereka menuduh ayah saya terlibat dalam aktivitas politik. Ayah saya menjelaskan bahwa ia tak terlibat kegiatan politik apapun. Mereka tidak percaya dan menembaknya di depan istri dan anak-anaknya. Kelima saudara laki-laki saya berusaha menolong dan melindungi ayah, tetapi orang-orang bersenjata itu langsung menembaki mereka juga. Semuanya meninggal seketika,” kenang Qamariah.

Setelah tiba di Kenya, Qamariah sempat bekerja selama satu tahun sebagai pelayan cuci piring di sebuah rumah makan. Melalui pekerjaan itu ia mendapatkan jaminan makan dan tempat tinggal. Ia berhenti bekerja ketika pemilik rumah makan memutuskan untuk memindahkan rumah makan itu ke kota lain. Ia lalu bekerja selama dua tahun sebagai pekerja rumah tangga pada sebuah keluarga Somalia yang tinggal sementara di Kenya namun sudah menjadi warga sebuah negara di Eropa. Selama tinggal bersama keluarga ini, ia mendapatkan penghasilan dan dapat belajar tentang materi pelajaran sekolah dari anak-anak majikannya. “Karena tidak bisa bersekolah seperti mereka, saya selalu bertanya mengenai pelajaran yang mereka terima setiap hari. Saya belajar dari mereka,” jelas Qamariah.

Qamariah beruntung dapat bekerja di sebuah keluarga yang sangat baik dan membantunya untuk mendapatkan suaka dari kantor UNHCR. “Saya diwawancarai untuk pertama kalinya oleh UNHCR. Enam bulan kemudian, saya diminta datang kembali ke UNHCR namun saya tidak dapat datang karena saya sedang sakit parah,” lanjutnya.

Ketika akan kembali ke Eropa, keluarga itu menyiapkan dokumen perjalanan Qamariah agar dapat menyusul mereka ke Eropa. Seluruh proses dan biaya itu dipercayakan kepada seorang agen namun Qamariah tidak dibawa ke Eropa, melainkan ke Malaysia lalu ke Indonesia.

Tanpa saya ketahui, ternyata pesawat yang saya tumpangi transit di Malaysia lalu keesokan harinya terbang ke Indonesia. Sesampai di Indonesia, agen itu menghilang entah ke mana, sementara saya tak memiliki nomor kontak keluarga sama sekali. Saya tak dapat melakukan apapun,” kata Qamariah penuh penyesalan.

Dalam usia 23 tahun, Qamariah telah mengalami terlalu banyak penderitaan dan kehilangan. Perempuan yang terpaksa meninggalkan tanah kelahirannya untuk mencari keselamatan dan rasa aman, tak pernah lepas dari kerentanan dan butuh perlindungan. Hidup sebagai perempuan dan Pencari Suaka dalam pengungsian tak selalu menyediakan rasa aman dan perlindungan. Senantiasa dalam bahaya untuk ditangkap, dimasukkan dalam rumah detensi tanpa kebebasan, atau hidup tanpa kejelasan dan jaminan dalam waktu yang tak pernah bisa diperkirakan, Qamariah berharap dapat menjadi seorang ibu.

Tentang ayah dari bayinya, yang juga seorang Pencari Suaka, ia mengatakan,“Sebelum ia pergi, kami saling jatuh cinta dan saya hamil. Sekarang saya bingung dan panik,” keluhnya. Sebagai Pencari Suaka dan Pengungsi, di banyak negara termasuk di Indonesia, laki-laki dan perempuan tidak dapat menikah secara resmi, dan anak yang lahir mengalami kesulitan untuk mendapatkan akta kelahiran dan kewarganegaraan. Apakah anak Qamariah juga akan ikut menanggung hal itu?

Qamariah yang lahir dalam keluarga atau suku yang teraniaya, masih harus mengarungi dunia, menanggung penderitaan, ancaman dan ketidakpastian hingga menemukan orang dan sebuah negara yang mau menerimanya apa adanya, sebagai manusia, yang memberikan hak-hak yang telah lama dirindukannya – Hak untuk Bebas dari Penganiayaan Fisik, hak atas Pendidikan, Kewarganegaraan, untuk Membangun Keluarga dan hak untuk Bekerja.

Itulah hak yang kita terima secara gratis setiap hari.

** Demi perlindungan dan keamanan, semua nama dalam artikel ini adalah nama samaran.

Fransisca Asmiarsi

Australia: menutup pintu di hadapan krisis kemanusiaan global

Yogyakarta, 20 November 2014. Dengan rasa sedih yang mendalam, Jesuit Refugee Service mengamati langkah mundur pemerintah Australia yang mengeluarkan sebuah perubahan kebijakan terhadap mereka yang sedang mencari perlindungan internasional di kawasan Asia Tenggara. Pada 18 November 2014, pemerintah Australia mengumumkan … Lanjutkan baca

Tanggap Darurat Gunung Kelud

Bersama dengan Komunitas Relawan Jogja Bersatu, JRS Indonesia mengambil bagian dalam respon emergency Gunung Kelud. Komunitas Relawan Jogja Bersatu sendiri adalah sebuah komunitas yang terdiri dari berbagai kelompok masyarakat, baik individu maupun mahasiswa di wilayah Yogyakarta, yang bersinergi dalam respon kebencanaan. Mereka hadir di lapangan untuk menemani, memberikan bantuan konseling, dan menyalurkan barang-barang yang sangat dibutuhkan. Dalam hal ini, JRS Indonesia memberikan support dana untuk kebutuhan operasional dan belanja barang, dan kehadiran di lapangan selama 2 hari, yaitu di tanggal 26-27 Februari 2014. Lanjutkan baca

33 Tahun Berlalu, Kebutuhan Pengungsi Menjadi Lebih Besar daripada Sebelumnya

Merayakan 33 tahun berada bersama dan melayani pengungsi, JRS ingin mendorong Anda untuk menebarkan keramahtamahanan dan dukungan kepada saudara-saudara kita yang ada di sini, yakni para pengungsi yang sedang mencari perlindungan. Lanjutkan baca

Vatikan: Paus Fransiskus Menyerukan Keramahtamahan dan Keadilan dalam Kunjungan ke Jesuit Refugee Service

“Memberikan sandwich itu tidaklah cukup jika tidak disertai dengan kemungkinan untuk belajar berdiri di atas dua kaki sendiri. Amal kasih yang tidak mengubah situasi orang miskin, tidaklah cukup. Belas kasih sejati, yang telah diberikan dan diajarkan oleh Allah kepada kita, menuntut keadilan dan cara agar orang miskin dapat menemukan jalan keluar dari kemiskinan.” Lanjutkan baca

JRS Bergabung dalam Seruan Lintas-Iman bagi Perlindungan terhadap Pengungsi

Jesuit Refugee Service bersama dengan badan PBB urusan Pengungsi (UNHCR) dan perwakilan dari sejumlah organisasi berbasis agama menyerukan perlindungan yang lebih besar bagi para Pengungsi.

Deklarasi multi bahasa setebal 16 halaman, yang dikenal sebagai sebuah Penegasan tentang Keramahan, merupakan yang pertama kali melibatkan UNHCR dan spektrum organisasi-organisasi berbasis agama. Lanjutkan baca

Penemanan JRS Indonesia bagi Pengungsi dan Pencari Suaka 2013

Pada bulan Mei 2013 JRS membantu SUAKA menyelenggarakan pertemuan singkat dengan para Diplomat tentang situasi Pengungsi dan Pencari Suaka di Indonesia. SUAKA dan JRS terlibat dalam Diskusi Kelompok Terfokus di kantor Komisi Nasional Hak Asasi Manusia yang mendiskusikan dan mendorong agar Pemerintah Indonesia meratifikasi konvensi tentang Status Pengungsi dan protokolnya. SUAKA terus memberikan bantuan hukum dan penemanan kepada Pencari Suaka yang sebagian besar merupakan rujukan dari JRS dalam proses Penentuan Status Pengungsi mereka. Saat ini system rujukan yang lebih komprehensif telah dikembangkan dalam kerjasama antara JRS dan SUAKA. Lanjutkan baca

Futsal

Minggu, 9 September 2012, malam. Dua belas orang laki-laki Afrika berjalan menuju ke suatu toko yang agak besar di Cipayung. Mereka itu pencari suaka yang berasal dari Somalia, Sudan, dan Ethiopia. Tempat tujuan mereka ada di lantai tiga di toko … Lanjutkan baca

Ulang tahun JRS Indonesia ke-31

Yogyakarta, 14 November 2011 – 31 tahun bukanlah waktu yang pendek untuk mengukur kehidupan. Selama 31 tahun perjalanan, JRS bangga akan warisan semangat dari Pedro Arrupe yang menggugah keprihatinan orang akan adanya pengungsi. Tahun ini, JRS Indonesia merayakan ulang tahunnya yang ke-31 dengan banyak cara yang sederhana. Lanjutkan baca

Hari Pengungsi Sedunia 2009

Dalam peringatan Hari Pengungsi Sedunia tanggal 20 Juni yang lalu, sekitar 50 orang termasuk dosen dan mahasiswa dari Indonesia, Thailand dan Burma/Myanmar berkumpul di Universitas Sanata Dharma Yogyakarta atas undangan JRS untuk menyaksikan sebuah film yang menggambarkan pengalaman dan tantangan yang dihadapi oleh para pengungsi di negara asal mereka dan di negara suaka (Malaysia). “Secara pribadi saya menghargai semua orang yang membantu mereka (pengungsi) dan menerimanya di negara mereka… mereka ini melarikan diri dan suara mereka menyentuh setiap kita,” ujar Lorence, mahasiswa asal Myanmar/Burma yang masih tersentuh dengan kisah yang disampaikan lewat film tersebut. Lanjutkan baca