Suatu Hari dalam Kehidupan Seorang Sukarelawan JRS

Minggu, Desember 21st, 2014
Sarah sedang menjadi sukarelawan JRS Indonesia selama 3 bulan

Sarah sedang menjadi sukarelawan JRS Indonesia selama 3 bulan

Hari itu adalah Rabu atau hari Kamis, jam 10 pagi. Saya naik sepeda motor menuju ke selatan melewati kota Yogyakarta dan tiba di Wisma Pengungsi di Sewon. Saya melewati pintu gerbang, mengucapkan ‘selamat pagi’ kepada petugas keamanan, dan memarkir motor. Saya turun dan menuju ke ruang kelas. Ruangannya sempit, jadi mungkin kami seperti belajar di dapur hari ini. Bagaimanapun juga, pelajaran bahasa Inggris tetap akan berlangsung!

Mereka menyambut saya dengan jabat tangan yang ramah. Saya merasa sangat gembira menjadi bagian yang akrab dari para Pengungsi Sewon yang memanggil saya Sarah, Miss Sarah atau Miss Teacher. Bagaimanapun mereka memanggil saya, saya sangat yakin mereka bergembira berjumpa dengan saya, demikian pula sebaliknya. Lalu saya bertemu dengan para guru yang dengan setia mengajar bahasa Inggris bagi Pengungsi di sini dengan durasi waktu yang berbeda-beda, dan mereka juga senantiasa tersenyum ramah. Sambil siap sedia untuk ngobrol tentang beragam topik, dari soal hewan peliharaan masa kecil sampai soal sapi yang jatuh dari langit, saya duduk bersama para guru yang kelasnya akan saya ikuti pada pagi hari. Para Pengungsi yang mau belajar itu berdatangan sambil membawa map bahasa Inggris di tangan. Mereka siap untuk diajak melakukan apa saja pada dua jam ke depan.

Kadang-kadang kami bermain dengan bahasa Inggris, atau mengerjakan tes, atau kegiatan yang disepakati bersama. Ketika melakukan permainan, kami akan banyak tertawa. Ada banyak lelucon tentang kecurangan yang terjadi di antara kami. Tetapi pada akhirnya, kalau ada salah seorang yang belum mengerti, selalu ada yang akan memberikan penjelasan dan dukungan; entah itu para guru, saya sendiri, atau salah satu Pengungsi. Hidup menjadi lebih indah ketika kita menjalaninya bersama. Pada hari Rabu, biasanya ada Pengungsi dari Myanmar di kelas saya, jadi saya mencoba melatih kemampuan bahasa Myanmar saya yang sudah mulai pudar. Kadang-kadang beberapa kata Indonesia digunakan juga sebagai tambahan. Tetapi biasanya, kami menggunakan bahasa Inggris. Selama dua jam itu, saya banyak tertawa. Saya tertawa karena inilah waktunya kami berbagi lelucon. Saya tersenyum karena kemajuan bahasa Inggris mereka. Saya tersenyum sebab saya menyadari bahwa mereka menjadi lebih nyaman terhadap saya yang bergabung di kelas mereka, dan kami bisa berbagi keceriaan hidup bersama-sama.

Ketika kelas bahasa Inggris sudah selesai, kami biasa belajar bahasa Indonesia bersama-sama juga, karena, meskipun bahasa Inggris lebih dibutuhkan di masa depan, saat ini mereka sedang tinggal di Indonesia. Setelah kelas selesai, kami biasanya mengobrol bersama para guru dan Pengungsi yang lain. Kadang-kadang berberapa orang Pengungsi mengundang kami ke ruangannya untuk makan siang bersama-sama. Saya sangat senang untuk mencoba makanan baru dari negara lain, dan makanannya tidak pernah mengecewakan. Saya menambah makanan untuk kedua kalinya, ketiga kalinya, sampai saya tidak bisa makan lagi. Kami bercerita, kadang-kadang tentang negara asli mereka, kali lain tentang negara asli saya, Inggris. Kadang-kadang kami bercanda, tetapi kali lain saya terdiam ketika orang-orang yang sudah menjadi seperti saudara saya sendiri, bercerita tentang kisah hidupnya dan membuat kesulitan-kesulitan kecil yang saya hadapi menjadi tak ada artinya.

Setelah itu, saya kembali ke kehidupan nyaman saya sebagai mahasiswa asing di salah satu universitas terbaik di Indonesia. Melewati pintu gerbang, saya berpamitan kepada petugas keamanan, berjalan menyusuri sawah dan melalui jalanan kota Yogyakarta yang ramai. Namun, ketika tidak kelihatan sama sekali tidak berarti bahwa saya tidak memikirkan mereka. Sambil naik motor, saya berdoa untuk para Pengungsi di kelas saya, semoga mereka menemukan kedamaian di antara kesulitan mereka, semoga kebutuhan mereka terpenuhi, dan semoga mereka tidak kehilangan harapan di tengah proses yang panjang ini.

Sarah Watt

Australia: menutup pintu di hadapan krisis kemanusiaan global

Yogyakarta, 20 November 2014. Dengan rasa sedih yang mendalam, Jesuit Refugee Service mengamati langkah mundur pemerintah Australia yang mengeluarkan sebuah perubahan kebijakan terhadap mereka yang sedang mencari perlindungan internasional di kawasan Asia Tenggara. Pada 18 November 2014, pemerintah Australia mengumumkan … Lanjutkan baca

Tanggap Darurat Gunung Kelud

Bersama dengan Komunitas Relawan Jogja Bersatu, JRS Indonesia mengambil bagian dalam respon emergency Gunung Kelud. Komunitas Relawan Jogja Bersatu sendiri adalah sebuah komunitas yang terdiri dari berbagai kelompok masyarakat, baik individu maupun mahasiswa di wilayah Yogyakarta, yang bersinergi dalam respon kebencanaan. Mereka hadir di lapangan untuk menemani, memberikan bantuan konseling, dan menyalurkan barang-barang yang sangat dibutuhkan. Dalam hal ini, JRS Indonesia memberikan support dana untuk kebutuhan operasional dan belanja barang, dan kehadiran di lapangan selama 2 hari, yaitu di tanggal 26-27 Februari 2014. Lanjutkan baca

33 Tahun Berlalu, Kebutuhan Pengungsi Menjadi Lebih Besar daripada Sebelumnya

Merayakan 33 tahun berada bersama dan melayani pengungsi, JRS ingin mendorong Anda untuk menebarkan keramahtamahanan dan dukungan kepada saudara-saudara kita yang ada di sini, yakni para pengungsi yang sedang mencari perlindungan. Lanjutkan baca

Vatikan: Paus Fransiskus Menyerukan Keramahtamahan dan Keadilan dalam Kunjungan ke Jesuit Refugee Service

“Memberikan sandwich itu tidaklah cukup jika tidak disertai dengan kemungkinan untuk belajar berdiri di atas dua kaki sendiri. Amal kasih yang tidak mengubah situasi orang miskin, tidaklah cukup. Belas kasih sejati, yang telah diberikan dan diajarkan oleh Allah kepada kita, menuntut keadilan dan cara agar orang miskin dapat menemukan jalan keluar dari kemiskinan.” Lanjutkan baca

JRS Bergabung dalam Seruan Lintas-Iman bagi Perlindungan terhadap Pengungsi

Jesuit Refugee Service bersama dengan badan PBB urusan Pengungsi (UNHCR) dan perwakilan dari sejumlah organisasi berbasis agama menyerukan perlindungan yang lebih besar bagi para Pengungsi.

Deklarasi multi bahasa setebal 16 halaman, yang dikenal sebagai sebuah Penegasan tentang Keramahan, merupakan yang pertama kali melibatkan UNHCR dan spektrum organisasi-organisasi berbasis agama. Lanjutkan baca

Penemanan JRS Indonesia bagi Pengungsi dan Pencari Suaka 2013

Pada bulan Mei 2013 JRS membantu SUAKA menyelenggarakan pertemuan singkat dengan para Diplomat tentang situasi Pengungsi dan Pencari Suaka di Indonesia. SUAKA dan JRS terlibat dalam Diskusi Kelompok Terfokus di kantor Komisi Nasional Hak Asasi Manusia yang mendiskusikan dan mendorong agar Pemerintah Indonesia meratifikasi konvensi tentang Status Pengungsi dan protokolnya. SUAKA terus memberikan bantuan hukum dan penemanan kepada Pencari Suaka yang sebagian besar merupakan rujukan dari JRS dalam proses Penentuan Status Pengungsi mereka. Saat ini system rujukan yang lebih komprehensif telah dikembangkan dalam kerjasama antara JRS dan SUAKA. Lanjutkan baca

Futsal

Minggu, 9 September 2012, malam. Dua belas orang laki-laki Afrika berjalan menuju ke suatu toko yang agak besar di Cipayung. Mereka itu pencari suaka yang berasal dari Somalia, Sudan, dan Ethiopia. Tempat tujuan mereka ada di lantai tiga di toko … Lanjutkan baca

Ulang tahun JRS Indonesia ke-31

Yogyakarta, 14 November 2011 – 31 tahun bukanlah waktu yang pendek untuk mengukur kehidupan. Selama 31 tahun perjalanan, JRS bangga akan warisan semangat dari Pedro Arrupe yang menggugah keprihatinan orang akan adanya pengungsi. Tahun ini, JRS Indonesia merayakan ulang tahunnya yang ke-31 dengan banyak cara yang sederhana. Lanjutkan baca

Hari Pengungsi Sedunia 2009

Dalam peringatan Hari Pengungsi Sedunia tanggal 20 Juni yang lalu, sekitar 50 orang termasuk dosen dan mahasiswa dari Indonesia, Thailand dan Burma/Myanmar berkumpul di Universitas Sanata Dharma Yogyakarta atas undangan JRS untuk menyaksikan sebuah film yang menggambarkan pengalaman dan tantangan yang dihadapi oleh para pengungsi di negara asal mereka dan di negara suaka (Malaysia). “Secara pribadi saya menghargai semua orang yang membantu mereka (pengungsi) dan menerimanya di negara mereka… mereka ini melarikan diri dan suara mereka menyentuh setiap kita,” ujar Lorence, mahasiswa asal Myanmar/Burma yang masih tersentuh dengan kisah yang disampaikan lewat film tersebut. Lanjutkan baca