Tak Lagi Disalahpahami

Kamis, Juni 11th, 2015
Dua orang penerjemah sukarela mendiskusikan materi pelatihan penerjemah yang diadakan oleh JRS pada tanggal 10-16 Juni 2014.

Dua orang penerjemah sukarela mendiskusikan materi pelatihan penerjemah yang diadakan oleh JRS pada tanggal 10-16 Juni 2014.

Tidaklah mudah menjadi orang asing. Yang paling berat kerapkali adalah bagaimana memenuhi kebutuhan untuk dipahami, terutama bila ia datang dari tempat yang jauh, dengan budaya, bahasa, dan pengalaman yang sungguh berbeda. Banyak pencari suaka dan pengungsi yang saat ini tengah mencari perlindungan internasional di Indonesia, mengalami kendala bahasa. Kendalanya beragam, mulai dari pencakapan sehari- hari dengan tetangga atau di pasar, sampai pada situasi ketika setiap patah kata sangatlah penting, seperti saat bertemu dokter atau pegawai pemerintah, atau saat proses wawancara yang menentukan status perlindungan mereka.

Sesama pengungsi seringkali menawarkan diri sebagai penerjemah sukarela dalam berbagi situasi, entah di rumah detensi imigrasi maupun di tengah komunitas pencari suaka. Berkat bantuan mereka, pencari suaka dan pengungsi menjadi lebih mudah didengarkan dan dipahami. Namun, mereka belum memiliki bekal pelatihan yang cukup untuk melakukan penerjemahan dengan benar dan tepat. Pegawai pemerintah, staf rumah sakit, pemimpin masyarakat setempat, maupun lembaga yang melayani para pengungsi seringkali bergantung pada bantuan para penerjemah sukarela ini.

Menyadari pentingnya peran mereka, JRS memilih 16 pengungsi dan pencari suaka yang paling berbakat di Jakarta dan Jawa Barat untuk mengikuti pelatihan menjadi penerjemah oleh Alice Johnson, seorang ahli dari Cairo Community Interpreter Project (CCIP) pada The American University in Cairo. Pelatihan ini diadakan pada tanggal 10-16 Juni 2014, dengan menyertakan unsur bahasa yang digunakan oleh mayoritas komunitas pengungsi di Indonesia, seperti Farsi, Dari, Urdu, bahasa Inggris dan bahasa Indonesia.

Selama 6 hari pelatihan tersebut, para pengungsi tidak hanya mengembangkan kemampuan mereka untuk mengingat kata-kata dan frase secara tepat (teori dan kemampuan kognitif penerjemah), yang dilatih dengan aneka teknik menerjemahkan yang berbasis pada dialog lewat berbagai permainan peran dan debat, serta yang tercermin dalam profesionalisme dan kode etik yang harus ditepati oleh seorang penerjemah.

Mereka juga belajar untuk mengelola pelayanan sukarela mereka agar dapat diakses oleh pihak-pihak yang membutuhkan. Prosedur dan etika penerjemahan kemudian menjadi sama pentingnya dengan pembelajaran berkelanjutan tentang beragam strategi analisis lingustik, perangkat penelitian istilah, serta pengembangan perbendaharaan istilah.

Dalam percakapan sehari-hari,seringkali kita memperlakukan bahasa secara sepele. Namun, ketika kita menerjemahkan pengalaman seseorang dengan bahasa dan latar belakang budaya yang berbeda, berbagai pertanyaan dapat muncul. Ini hanya bisa terjawab oleh jam terbang, refleksi, riset, serta diskusi terus-menerus dan saling tukar pengalaman antar sesama penerjemah.

Lebih jauh lagi, menjadi penyambung suara untuk menyampaikan berbagai pesan yang seringkali sarat kesedihan, baik dari komunitas pengungsi maupun dari tenaga kesehatan profesional, tentu cukup menantang secara emosional. Oleh karena itu, para penerjemah membutuhkan daya tahan emosional. Seusai pelatihan, kelompok penerjemah sukarela ini mulai menerapkan ketrampilan baru yang telah mereka pelajari untuk menolong orang lain.

Dokumentasi pelatihan penerjemah tentang definisi menerjemahkan

Dokumentasi pelatihan penerjemah tentang definisi menerjemahkan

Secara rutin, mereka membantu beberapa lembaga seperti JRS dan Suaka. Di lingkungan sekitar tempat mereka tinggal, mereka juga membantu warga masyarakat setempat untuk berkomunikasi dengan para pencari suaka, atau membantu tetangga yang perlu mereka dampingi ke rumah sakit.

Pada Selasa sore tanggal 18 November 2014, mereka yang pernah mengikuti pelatihan berkumpul kembali untuk merefleksikan hal-hal yang telah mereka pelajari dan alami semenjak pelatihan. Mereka sangat senang ketika mendengar bahwa JRS akan mengadakan sesi tindak lanjut bagi para penerjemah. Sayang, tidak semua penerjemah dapat hadir dalam pertemuan itu. Beberapa dari mereka telah menyerahkan diri ke rumah detensi imigrasi karena tak lagi mampu memenuhi kebutuhan hidup. Meski demikian, mereka masih menjalin kontak dengan kelompok penerjemah sukarela ini maupun dengan JRS. Mereka pun telah membantu pencari suaka di detensi imigrasi saat berkomunikasi dengan IOM dan UNHCR.

Pertemuan itu bermanfaat bagi para penerjemah untuk saling membagikan pengalaman, kesulitan, serta cara mereka menghadapinya. Dari situ, mereka berencana untuk mengadakan pertemuan rutin.

 “Kami tidak ingin mengecewakan Alice. Kami telah mendapatkan begitu banyak dari pelatihan tersebut. Kami ingin terus meneguhkan dan mengingatkan satu sama lain lewat pertemuan-pertemuan seperti ini. Secara pribadi, saya merasa bahwa pelatihan itu menjadi saat yang paling tak terlupakan selama saya tinggal di Indonesia,” ujar Burhan* dalam pertemuan tersebut.

Burhan, bersama para penerjemah sukarela lainnya, merasa sangat gembira ketika mengingat kembali pelatihan tersebut melalui foto-foto yang ditampilkan. Pertemuan ini tidak hanya bermanfaat bagi para sukarelawan, tetapi juga untuk JRS sebagai lembaga. Ada beberapa pembelajaran yang bisa dipetik oleh tim. Pertama, mereka yang dimintai tolong untuk menerjemahkan tidak selalu dapat dikatakan sebagai penerjemah karena    mereka tidak tahu banyak tentang teknik dan etika penerjemahan. Kita dapat menyebut mereka sebagai orang-orang yang membantu kita untuk menerjemahkan. Kedua, jika demikian halnya, lembaga penyedia layanan haruslah memainkan peran yang lebih besar saat bekerja dengan penerjemah yang tidak terlatih tersebut, yakni dengan memberikan arahan dasar tentang cara menerjemahkan dan aspek kerahasiaan.

Lembaga juga perlu mengingatkan mereka untuk (a) menerjemahkan setiap kata; (b) tidak melakukan percakapan sampingan di luar alur pembicaraan yang diterjemahkan, yang dapat membuat salah satu pihak tidak merasa nyaman. Artinya, mereka harus menerjemahkan segala sesuatu baik kepada JRS maupun pencari suaka; dan (c) berbicara dalam perspektif orang pertama, yaitu menggunakan subjek “saya”, bukan “dia”.

“Anggota komunitas pengungsi seringkali bertanya tentang berbagai hal pada penerjemah, padahal maksudnya mereka ingin bertanya pada lembaga penyedia layanan. Praktek seperti ini seringkali membebani para penerjemah, karena mereka sendiri adalah pencari suaka atau pengungsi. Kolaborasi antara kelompok penerjemah    dan     lembaga       penyedia layanan seperti JRS, dapat menjembatani jurang ini,” kata Gading Putra, Legal Liaison Officer JRS.

Adam Severson, Koordinator sementara di SUAKA untuk bidang Bantuan Hukum bagi pengungsi mengatakan, “Terima kasih sekali lagi atas penyelenggaraan pelatihan penerjemah bersama Alice. Saya berkesempatan untuk bekerja bersama Burhan. Dia sangat luar biasa. Ternyata, terasa betul bedanya ya, bekerja dengan penerjemah yang terlatih dengan baik.”

Menyadari apresiasi para penerjemah terhadap pelatihan tersebut dan manfaat yang mereka rasakan saat menerjemahkan bagi para pencari suaka, warga masyarakat setempat, para dokter, pegawai pemerintah, dan lembaga penyedia layanan, JRS merencanakan pelatihan lanjut bagi mereka di bulan April 2015. Peserta lama dan baru akan diseleksi dan diundang untuk meningkatkan komunikasi dan saling pengertian. Dengan demikian, kita berharap bahwa komunikasi dapat lebih terjalin dan tidak ada lagi salah paham dalam penerjemahan.

*Burhan bukanlah nama sebenarnya.

Lars Stenger dan Gading Gumilang Putra

Australia: menutup pintu di hadapan krisis kemanusiaan global

Yogyakarta, 20 November 2014. Dengan rasa sedih yang mendalam, Jesuit Refugee Service mengamati langkah mundur pemerintah Australia yang mengeluarkan sebuah perubahan kebijakan terhadap mereka yang sedang mencari perlindungan internasional di kawasan Asia Tenggara. Pada 18 November 2014, pemerintah Australia mengumumkan … Lanjutkan baca

Tanggap Darurat Gunung Kelud

Bersama dengan Komunitas Relawan Jogja Bersatu, JRS Indonesia mengambil bagian dalam respon emergency Gunung Kelud. Komunitas Relawan Jogja Bersatu sendiri adalah sebuah komunitas yang terdiri dari berbagai kelompok masyarakat, baik individu maupun mahasiswa di wilayah Yogyakarta, yang bersinergi dalam respon kebencanaan. Mereka hadir di lapangan untuk menemani, memberikan bantuan konseling, dan menyalurkan barang-barang yang sangat dibutuhkan. Dalam hal ini, JRS Indonesia memberikan support dana untuk kebutuhan operasional dan belanja barang, dan kehadiran di lapangan selama 2 hari, yaitu di tanggal 26-27 Februari 2014. Lanjutkan baca

33 Tahun Berlalu, Kebutuhan Pengungsi Menjadi Lebih Besar daripada Sebelumnya

Merayakan 33 tahun berada bersama dan melayani pengungsi, JRS ingin mendorong Anda untuk menebarkan keramahtamahanan dan dukungan kepada saudara-saudara kita yang ada di sini, yakni para pengungsi yang sedang mencari perlindungan. Lanjutkan baca

Vatikan: Paus Fransiskus Menyerukan Keramahtamahan dan Keadilan dalam Kunjungan ke Jesuit Refugee Service

“Memberikan sandwich itu tidaklah cukup jika tidak disertai dengan kemungkinan untuk belajar berdiri di atas dua kaki sendiri. Amal kasih yang tidak mengubah situasi orang miskin, tidaklah cukup. Belas kasih sejati, yang telah diberikan dan diajarkan oleh Allah kepada kita, menuntut keadilan dan cara agar orang miskin dapat menemukan jalan keluar dari kemiskinan.” Lanjutkan baca

JRS Bergabung dalam Seruan Lintas-Iman bagi Perlindungan terhadap Pengungsi

Jesuit Refugee Service bersama dengan badan PBB urusan Pengungsi (UNHCR) dan perwakilan dari sejumlah organisasi berbasis agama menyerukan perlindungan yang lebih besar bagi para Pengungsi.

Deklarasi multi bahasa setebal 16 halaman, yang dikenal sebagai sebuah Penegasan tentang Keramahan, merupakan yang pertama kali melibatkan UNHCR dan spektrum organisasi-organisasi berbasis agama. Lanjutkan baca

Penemanan JRS Indonesia bagi Pengungsi dan Pencari Suaka 2013

Pada bulan Mei 2013 JRS membantu SUAKA menyelenggarakan pertemuan singkat dengan para Diplomat tentang situasi Pengungsi dan Pencari Suaka di Indonesia. SUAKA dan JRS terlibat dalam Diskusi Kelompok Terfokus di kantor Komisi Nasional Hak Asasi Manusia yang mendiskusikan dan mendorong agar Pemerintah Indonesia meratifikasi konvensi tentang Status Pengungsi dan protokolnya. SUAKA terus memberikan bantuan hukum dan penemanan kepada Pencari Suaka yang sebagian besar merupakan rujukan dari JRS dalam proses Penentuan Status Pengungsi mereka. Saat ini system rujukan yang lebih komprehensif telah dikembangkan dalam kerjasama antara JRS dan SUAKA. Lanjutkan baca

Futsal

Minggu, 9 September 2012, malam. Dua belas orang laki-laki Afrika berjalan menuju ke suatu toko yang agak besar di Cipayung. Mereka itu pencari suaka yang berasal dari Somalia, Sudan, dan Ethiopia. Tempat tujuan mereka ada di lantai tiga di toko … Lanjutkan baca

Ulang tahun JRS Indonesia ke-31

Yogyakarta, 14 November 2011 – 31 tahun bukanlah waktu yang pendek untuk mengukur kehidupan. Selama 31 tahun perjalanan, JRS bangga akan warisan semangat dari Pedro Arrupe yang menggugah keprihatinan orang akan adanya pengungsi. Tahun ini, JRS Indonesia merayakan ulang tahunnya yang ke-31 dengan banyak cara yang sederhana. Lanjutkan baca

Hari Pengungsi Sedunia 2009

Dalam peringatan Hari Pengungsi Sedunia tanggal 20 Juni yang lalu, sekitar 50 orang termasuk dosen dan mahasiswa dari Indonesia, Thailand dan Burma/Myanmar berkumpul di Universitas Sanata Dharma Yogyakarta atas undangan JRS untuk menyaksikan sebuah film yang menggambarkan pengalaman dan tantangan yang dihadapi oleh para pengungsi di negara asal mereka dan di negara suaka (Malaysia). “Secara pribadi saya menghargai semua orang yang membantu mereka (pengungsi) dan menerimanya di negara mereka… mereka ini melarikan diri dan suara mereka menyentuh setiap kita,” ujar Lorence, mahasiswa asal Myanmar/Burma yang masih tersentuh dengan kisah yang disampaikan lewat film tersebut. Lanjutkan baca