Kesabaran dalam Perjalanan Panjang

Selasa, April 6th, 2010

Pengungsi Myanmar dan Bangladesh saat menerima bantuan

Sejak awal Januari 2009, media massa baik internasional dan nasional memberitakan kaum Rohingya, manusia perahu yang melintasi lautan lepas berminggu-minggu hanya dengan perahu kecil tak bermotor, tanpa bekal yang cukup yang terdepak dari Thailand. Setelah menempuh perjalanan jauh yang traumatis serta menghadapi kelaparan dan penyakit di lautan lepas, akhirnya mereka terdampar di daratan Indonesia. Sebulan setelah kedatangan 193 orang di Sabang, ujung paling barat Indonesia, perahu kedua yang memuat 198 orang tiba di Kuala Idi, Kabupaten Aceh Timur. Berbagai pertanyaan muncul berkaitan dengan latar belakang dan pertanggungjawaban atas perjalanan dan kedatangan mereka di Indonesia.

 Bila merujuk pada Konvensi Internasional mengenai Penyelamatan di Perairan (juga dikenal dengan Konvensi SAR) tahun 1979, apa yang dilakukan oleh nelayan Aceh dengan menyelamatkan para penyintas ini, juga pihak angkatan laut serta pemda Sabang yang segera memberikan penanganan darurat di LANAL (Pangkalan TNI Angkatan Laut) Sabang sudah benar. Hal ini seperti tercantum dalam Konvensi SAR Bab 2.1.10   “…memastikan bahwa bantuan akan diberikan bagi mereka yang berada dalam situasi tertekan di laut tanpa memandang status kewarganegaraan maupun kodisi lingkungan dimana dia ditemukan” Bab lain dalam konvensi yang sama kemudian memperkuat pernyataan ini dengan menyebutkan adanya kewajiban “…menyediakan pelayanan medis awal maupun kebutuhan lainnya serta mengantar mereka ke daerah yang lebih aman” (Bab 1.3.2). Aturan ini  bertujuan untuk memastikan bahwa para penyintas lautan ini aman dan pulih kembali kesadarannya baik secara fisik maupun emosional. Dalam beberapa kasus tertentu, pemulihan kondisi kejiwaan memerlukan penanganan yang lebih lama dan sulit terukur. Penghargaan layak kita berikan pada Nelayan Kuala Idi, Pemerintah Kecamatan Idi Rayeuk, pihak Angkatan Laut Sabang, dan Pemerintah Sabang yang telah mengedepankan perspektif kemanusiaan ini dalam penanganan awal saat terdamparnya para penyintas lautan dari Myanmar dan Bangladesh ini di tanah Aceh.

 Jesuit Refugee Service Indonesia juga merasa prihatin dengan situasi ini. Sesuai dengan mandat JRS yakni melayani, menemani, dan membela orang-orang yang berpindah paksa merasa perlu untuk memberikan bantuan kemanusiaan bagi para penyintas lautan ini, setelah melakukan serangkaian penjajakan dan pengkajian. Dengan dukungan dari Trocaire, tim JRS Banda Aceh berkoordinasi dengan PMI dan Walikota Sabang memberikan bantuan kemanusiaan secara langsung kepada para penyintas dari Myanmar dan Bangladesh di Sabang dan Idi Rayeuk.

Pada tanggal 5 Februari 2009, JRS mengirimkan sejumlah barang keperluan darurat di Idi Rayeuk, Kabupaten Aceh Timur dan tanggal 14 Februari 2009 bantuan juga dikirimkan ke Sabang. Jenis bantuan yang diberikan berupa kasur palembang, matras, sandal, sarung, hygiene kit, pakaian, pakaian dalam, kantong tidur, tenda serta keperluan-keperluan untuk dapur umum di Sabang.

 Dua bulan telah berlalu sejak kedatangan para manusia perahu ini. Ketidakpastian tentang nasib mereka jelas tergambar di sana. Ketidakpastian ini tidak hanya berpengaruh pada manusia perahu itu sendiri melainkan juga pada pemerintah daerah setempat, sukarelawan, dan lembaga lokal yang memberikan bantuan kemanusiaan. Mungkin itu sebabnya mengapa hingga kini belum ada manajemen barak yang tepat yang dibentuk di Idi Rayeuk. Bagi para manusia perahu, ini berarti mereka harus menunggu keputusan dari pemerintah pusat tentang kelanjutan nasib mereka, menunggu hingga UNHCR dan IOM mendapat ijin untuk menggali alasan mereka berada di sini, kemudian menunggu lagi untuk diambilnya keputusan, tanpa tahu sampai kapan perjalanan mereka sebenarnya. Menghadapi masa depan mereka seperti perahu tak bermesin di lautan yang menanti arus yang akan membawa mereka, tenang, dengan penuh kesabaran dan doa. Mungkin menanti jawaban atas pertanyaan: Kapan perjalanan ini akan berakhir?

Pengungsi: Sebuah Peluang untuk Tumbuh Bersama

Jika kita sebagai keluarga manusia bersikeras untuk memandang pengungsi hanya sebagai beban, kita kehilangan peluang bagi solidaritas yang selalu menjadi peluang untuk saling belajar, saling memperkaya, dan saling menumbuhkan. Lanjutkan baca

Australia: menutup pintu di hadapan krisis kemanusiaan global

Yogyakarta, 20 November 2014. Dengan rasa sedih yang mendalam, Jesuit Refugee Service mengamati langkah mundur pemerintah Australia yang mengeluarkan sebuah perubahan kebijakan terhadap mereka yang sedang mencari perlindungan internasional di kawasan Asia Tenggara. Pada 18 November 2014, pemerintah Australia mengumumkan … Lanjutkan baca

Tanggap Darurat Gunung Kelud

Bersama dengan Komunitas Relawan Jogja Bersatu, JRS Indonesia mengambil bagian dalam respon emergency Gunung Kelud. Komunitas Relawan Jogja Bersatu sendiri adalah sebuah komunitas yang terdiri dari berbagai kelompok masyarakat, baik individu maupun mahasiswa di wilayah Yogyakarta, yang bersinergi dalam respon kebencanaan. Mereka hadir di lapangan untuk menemani, memberikan bantuan konseling, dan menyalurkan barang-barang yang sangat dibutuhkan. Dalam hal ini, JRS Indonesia memberikan support dana untuk kebutuhan operasional dan belanja barang, dan kehadiran di lapangan selama 2 hari, yaitu di tanggal 26-27 Februari 2014. Lanjutkan baca

33 Tahun Berlalu, Kebutuhan Pengungsi Menjadi Lebih Besar daripada Sebelumnya

Merayakan 33 tahun berada bersama dan melayani pengungsi, JRS ingin mendorong Anda untuk menebarkan keramahtamahanan dan dukungan kepada saudara-saudara kita yang ada di sini, yakni para pengungsi yang sedang mencari perlindungan. Lanjutkan baca

Vatikan: Paus Fransiskus Menyerukan Keramahtamahan dan Keadilan dalam Kunjungan ke Jesuit Refugee Service

“Memberikan sandwich itu tidaklah cukup jika tidak disertai dengan kemungkinan untuk belajar berdiri di atas dua kaki sendiri. Amal kasih yang tidak mengubah situasi orang miskin, tidaklah cukup. Belas kasih sejati, yang telah diberikan dan diajarkan oleh Allah kepada kita, menuntut keadilan dan cara agar orang miskin dapat menemukan jalan keluar dari kemiskinan.” Lanjutkan baca

JRS Bergabung dalam Seruan Lintas-Iman bagi Perlindungan terhadap Pengungsi

Jesuit Refugee Service bersama dengan badan PBB urusan Pengungsi (UNHCR) dan perwakilan dari sejumlah organisasi berbasis agama menyerukan perlindungan yang lebih besar bagi para Pengungsi.

Deklarasi multi bahasa setebal 16 halaman, yang dikenal sebagai sebuah Penegasan tentang Keramahan, merupakan yang pertama kali melibatkan UNHCR dan spektrum organisasi-organisasi berbasis agama. Lanjutkan baca

Penemanan JRS Indonesia bagi Pengungsi dan Pencari Suaka 2013

Pada bulan Mei 2013 JRS membantu SUAKA menyelenggarakan pertemuan singkat dengan para Diplomat tentang situasi Pengungsi dan Pencari Suaka di Indonesia. SUAKA dan JRS terlibat dalam Diskusi Kelompok Terfokus di kantor Komisi Nasional Hak Asasi Manusia yang mendiskusikan dan mendorong agar Pemerintah Indonesia meratifikasi konvensi tentang Status Pengungsi dan protokolnya. SUAKA terus memberikan bantuan hukum dan penemanan kepada Pencari Suaka yang sebagian besar merupakan rujukan dari JRS dalam proses Penentuan Status Pengungsi mereka. Saat ini system rujukan yang lebih komprehensif telah dikembangkan dalam kerjasama antara JRS dan SUAKA. Lanjutkan baca

Futsal

Minggu, 9 September 2012, malam. Dua belas orang laki-laki Afrika berjalan menuju ke suatu toko yang agak besar di Cipayung. Mereka itu pencari suaka yang berasal dari Somalia, Sudan, dan Ethiopia. Tempat tujuan mereka ada di lantai tiga di toko … Lanjutkan baca

Ulang tahun JRS Indonesia ke-31

Yogyakarta, 14 November 2011 – 31 tahun bukanlah waktu yang pendek untuk mengukur kehidupan. Selama 31 tahun perjalanan, JRS bangga akan warisan semangat dari Pedro Arrupe yang menggugah keprihatinan orang akan adanya pengungsi. Tahun ini, JRS Indonesia merayakan ulang tahunnya yang ke-31 dengan banyak cara yang sederhana. Lanjutkan baca

Hari Pengungsi Sedunia 2009

Dalam peringatan Hari Pengungsi Sedunia tanggal 20 Juni yang lalu, sekitar 50 orang termasuk dosen dan mahasiswa dari Indonesia, Thailand dan Burma/Myanmar berkumpul di Universitas Sanata Dharma Yogyakarta atas undangan JRS untuk menyaksikan sebuah film yang menggambarkan pengalaman dan tantangan yang dihadapi oleh para pengungsi di negara asal mereka dan di negara suaka (Malaysia). “Secara pribadi saya menghargai semua orang yang membantu mereka (pengungsi) dan menerimanya di negara mereka… mereka ini melarikan diri dan suara mereka menyentuh setiap kita,” ujar Lorence, mahasiswa asal Myanmar/Burma yang masih tersentuh dengan kisah yang disampaikan lewat film tersebut. Lanjutkan baca