33 Tahun Berlalu, Kebutuhan Pengungsi Menjadi Lebih Besar daripada Sebelumnya

Kamis, November 14th, 2013

Staf JRS mengunjungi anak Pengungsi di Rumah Detensi

Tahun 2013 ini menjadi saksi bagi semakin banyak orang yang terpaksa meninggalkan rumah dan negara mereka. Didorong oleh rasa takut terhadap konflik yang diwarnai kekerasan di Myanmar dan Timur Tengah, ancaman terhadap kehidupan, serta penyiksaan dan penganiayaan yang keji, anak-anak laki-laki dan perempuan, para ibu, serta bapak  tak menemukan cara lain kecuali menempuh perjalanan berbahaya demi mendapatkan keselamatan.

Namun meningkatnya kebutuhan pengungsi tidak hanya diukur dari segi jumlah, bukan pula diukur dari ancaman atas kurangnya pangan dan penampungan bagi mereka yang mengungsi. Kebutuhan terbesar justru muncul dari merosotnya solidaritas dan empati. Xenophobia (ketakutan atau kebencian terhadap orang asing) dan cara pandang sempit yang hanya peduli pada keamanan nasional, telah membuat banyak orang cenderung melupakan prinsip-prinsip kemanusiaan dan hak-hak umat manusia yang telah diakui untuk ditegakkan secara global setelah terjadinya bencana kemanusiaan dalam Perang Dunia Kedua.

Dengan penuh kesedihan, kita menyaksikan meningkatnya jumlah pengungsi yang ditahan di negara penerima ketika mereka terpaksa melintasi batas-batas negara dengan perahu, pesawat, atau berjalan kaki. Mereka  ditolak oleh masyarakat setempat karena berbeda. Apakah ini merupakan tanda bahwa kita telah menjadi terlalu berpuas diri, bahwa kenyamanan dan rasa aman kita telah menjauhkan kita dari mereka yang sangat membutuhkan? Apakah ini berarti bahwa kita tak lagi mampu membayangkan apa yang terjadi seandainya kita sendiri berada dalam situasi mereka, karena hak-hak kita terbiasa dihormati dan kita terbiasa dengan rumah dan kota yang aman, sehingga kita telah menjadi sinis terhadap mereka yang meminta perlindungan dan bantuan kita?

Pengalaman tinggal di Indonesia, tempat 11.000 laki-laki, perempuan dan anak-anak mencari perlindungan dari penganiayaan, membuat saya merasa sedih karena mendengar dan membaca bahwa para pengungsi disebut ‘imigran gelap’ dan karena melihat anak-anak, laki-laki dan perempuan yang dikurung selama berbulan-bulan tanpa alasan lain kecuali mencari keselamatan. Persis pada saat saya menulis kalimat-kalimat ini, telepon saya berdering dan mendengar seruan permintaan bantuan,”Ini adalah hari terakhir kami boleh tinggal. Besok kami harus meninggalkan kamar kos dan kami harus tinggal di jalanan. Kami hanya bisa makan sekali dalam sehari. Tolonglah kami, karena kami percaya kepada Tuhan. Tolonglah lakukan sesuatu bagi kami.”

Merayakan 33 tahun berada bersama dan melayani pengungsi, JRS ingin mendorong Anda untuk menebarkan keramahtamahanan dan dukungan kepada saudara-saudara kita yang ada di sini, yakni para pengungsi yang sedang mencari perlindungan.

Jika Anda ingin mendukung layanan kami silahkan kunjungi http://jrs.or.id/en/campaign/support-our-work/

Lars Stenger

Australia: menutup pintu di hadapan krisis kemanusiaan global

Yogyakarta, 20 November 2014. Dengan rasa sedih yang mendalam, Jesuit Refugee Service mengamati langkah mundur pemerintah Australia yang mengeluarkan sebuah perubahan kebijakan terhadap mereka yang sedang mencari perlindungan internasional di kawasan Asia Tenggara. Pada 18 November 2014, pemerintah Australia mengumumkan … Lanjutkan baca

Tanggap Darurat Gunung Kelud

Bersama dengan Komunitas Relawan Jogja Bersatu, JRS Indonesia mengambil bagian dalam respon emergency Gunung Kelud. Komunitas Relawan Jogja Bersatu sendiri adalah sebuah komunitas yang terdiri dari berbagai kelompok masyarakat, baik individu maupun mahasiswa di wilayah Yogyakarta, yang bersinergi dalam respon kebencanaan. Mereka hadir di lapangan untuk menemani, memberikan bantuan konseling, dan menyalurkan barang-barang yang sangat dibutuhkan. Dalam hal ini, JRS Indonesia memberikan support dana untuk kebutuhan operasional dan belanja barang, dan kehadiran di lapangan selama 2 hari, yaitu di tanggal 26-27 Februari 2014. Lanjutkan baca

33 Tahun Berlalu, Kebutuhan Pengungsi Menjadi Lebih Besar daripada Sebelumnya

Merayakan 33 tahun berada bersama dan melayani pengungsi, JRS ingin mendorong Anda untuk menebarkan keramahtamahanan dan dukungan kepada saudara-saudara kita yang ada di sini, yakni para pengungsi yang sedang mencari perlindungan. Lanjutkan baca

Vatikan: Paus Fransiskus Menyerukan Keramahtamahan dan Keadilan dalam Kunjungan ke Jesuit Refugee Service

“Memberikan sandwich itu tidaklah cukup jika tidak disertai dengan kemungkinan untuk belajar berdiri di atas dua kaki sendiri. Amal kasih yang tidak mengubah situasi orang miskin, tidaklah cukup. Belas kasih sejati, yang telah diberikan dan diajarkan oleh Allah kepada kita, menuntut keadilan dan cara agar orang miskin dapat menemukan jalan keluar dari kemiskinan.” Lanjutkan baca

JRS Bergabung dalam Seruan Lintas-Iman bagi Perlindungan terhadap Pengungsi

Jesuit Refugee Service bersama dengan badan PBB urusan Pengungsi (UNHCR) dan perwakilan dari sejumlah organisasi berbasis agama menyerukan perlindungan yang lebih besar bagi para Pengungsi.

Deklarasi multi bahasa setebal 16 halaman, yang dikenal sebagai sebuah Penegasan tentang Keramahan, merupakan yang pertama kali melibatkan UNHCR dan spektrum organisasi-organisasi berbasis agama. Lanjutkan baca

Penemanan JRS Indonesia bagi Pengungsi dan Pencari Suaka 2013

Pada bulan Mei 2013 JRS membantu SUAKA menyelenggarakan pertemuan singkat dengan para Diplomat tentang situasi Pengungsi dan Pencari Suaka di Indonesia. SUAKA dan JRS terlibat dalam Diskusi Kelompok Terfokus di kantor Komisi Nasional Hak Asasi Manusia yang mendiskusikan dan mendorong agar Pemerintah Indonesia meratifikasi konvensi tentang Status Pengungsi dan protokolnya. SUAKA terus memberikan bantuan hukum dan penemanan kepada Pencari Suaka yang sebagian besar merupakan rujukan dari JRS dalam proses Penentuan Status Pengungsi mereka. Saat ini system rujukan yang lebih komprehensif telah dikembangkan dalam kerjasama antara JRS dan SUAKA. Lanjutkan baca

Futsal

Minggu, 9 September 2012, malam. Dua belas orang laki-laki Afrika berjalan menuju ke suatu toko yang agak besar di Cipayung. Mereka itu pencari suaka yang berasal dari Somalia, Sudan, dan Ethiopia. Tempat tujuan mereka ada di lantai tiga di toko … Lanjutkan baca

Ulang tahun JRS Indonesia ke-31

Yogyakarta, 14 November 2011 – 31 tahun bukanlah waktu yang pendek untuk mengukur kehidupan. Selama 31 tahun perjalanan, JRS bangga akan warisan semangat dari Pedro Arrupe yang menggugah keprihatinan orang akan adanya pengungsi. Tahun ini, JRS Indonesia merayakan ulang tahunnya yang ke-31 dengan banyak cara yang sederhana. Lanjutkan baca

Hari Pengungsi Sedunia 2009

Dalam peringatan Hari Pengungsi Sedunia tanggal 20 Juni yang lalu, sekitar 50 orang termasuk dosen dan mahasiswa dari Indonesia, Thailand dan Burma/Myanmar berkumpul di Universitas Sanata Dharma Yogyakarta atas undangan JRS untuk menyaksikan sebuah film yang menggambarkan pengalaman dan tantangan yang dihadapi oleh para pengungsi di negara asal mereka dan di negara suaka (Malaysia). “Secara pribadi saya menghargai semua orang yang membantu mereka (pengungsi) dan menerimanya di negara mereka… mereka ini melarikan diri dan suara mereka menyentuh setiap kita,” ujar Lorence, mahasiswa asal Myanmar/Burma yang masih tersentuh dengan kisah yang disampaikan lewat film tersebut. Lanjutkan baca