Australia: menutup pintu di hadapan krisis kemanusiaan global

Kamis, November 20th, 2014
Refugee locked up behind bars in a detention centre

Refugee locked up behind bars in a detention centre

Yogyakarta, 20 November 2014. Dengan rasa sedih yang mendalam, Jesuit Refugee Service mengamati langkah mundur pemerintah Australia yang mengeluarkan sebuah perubahan kebijakan terhadap mereka yang sedang mencari perlindungan internasional di kawasan Asia Tenggara. Pada 18 November 2014, pemerintah Australia mengumumkan keputusan untuk menghentikan proses penempatan (resettlement) bagi para pengungsi lintas batas negara yang telah terdaftar di UNHCR (Komisi Tinggi PBB untuk Urusan Pengungsi) di Indonesia pada atau setelah 1 Juli 2014. Jumlah pengungsi dari Indonesia yang akan ditempatkan di Australia juga akan dikurangi pada tahun 2015.

Kebijakan ini adalah pukulan lebih lanjut bagi mereka yang berusaha mendapatkan akses perlindungan melalui jalur resmi yang tersedia di Asia Tenggara yaitu proses Penentuan Status Pengungsi (Refugee Status Determination) melalui UNHCR. Sejauh ini, perubahan tersebut akan mempengaruhi lebih dari 1.911 pencari suaka yang ada di Indonesia, yang sebagian besar berasal dari Afghanistan, Myanmar, Irak, wilayah Palestina, Sri Lanka, dan Suriah. Lebih dari 4.300 orang yang telah mendapatkan status pengungsi (refugee) saat ini berada di Indonesia, dan jika kembali ke negara asal, keselamatan mereka akan terancam. Sementara itu, sekitar 6.200 pencari suaka saat ini sedang menunggu hasil proses Penentuan Status Pengungsi di UNHCR Indonesia.

Karena minimnya peraturan perundangan tentang pencari suaka di Indonesia dan kecilnya dukungan yang diberikan bagi para pengungsi, nasib mereka berada di tangan negara-negara yang bersedia menerima mereka atas alasan kemanusiaan. Kebijakan baru pemerintah Australia ini tidak akan menghentikan orang mengungsi ke Indonesia untuk menempuh proses Penentuan Status Pengungsi di UNHCR Indonesia dan menunggu penempatan ke negara ketiga yang bersedia menerima mereka. Kebijakan ini hanyalah melemparkan tanggung jawab penempatan tersebut ke negara-negara lain dan menambah beban Indonesia yang baru saja meminta Australia untuk menambah kuota penempatan pengungsi ke Australia.

Danial*1 adalah mantan staf PBB dan seorang etnis minoritas Hazara dari Afghanistan yang terpaksa mengungsi karena hidupnya terancam dan sedang mencari suaka di Indonesia. Ia memandang keputusan pemerintah Australia sebagai:

Kebijakan untuk membatasi jumlah visa karena alasan kemanusiaan (humanitarian visa) bagi pengungsi dan menolak pengungsi yang didaftar setelah bulan Juli 2014, sungguh mengecewakan. Keprihatinan yang mendalam membayangi para pengungsi yang sedang menunggu di Indonesia. Pemerintah Australia mengabaikan penderitaan mereka yang harus mengungsi akibat ancaman kekerasan. Kebijakan ini tidak akan membantu, namun justru menambah ketidakpastian hidup para pengungsi. Artinya juga bahwa anak-anak kami tidak akan mendapatkan kesempatan untuk mengenyam pendidikan pada tahun-tahun mendatang.”

Saya di Indonesia bersama tujuh anggota keluarga dari Afghanistan. Dulu saya bekerja selama tujuh tahun dengan PBB dan komunitas internasional, termasuk dengan pasukan internasional. Mobil saya diledakkan dengan bom rakitan yang dipasang oleh Taliban. Saya mendapatkan ancaman dari pimpinan milisi lokal, pejabat pemerintah, dan penguasa. Beberapa kali, Taliban mencari keluarga saya. Saya menyaksikan sendiri teman-teman saya terbunuh. Saya berada di dekat lokasi ledakan bom itu dan saya mengumpulkan sisa-sisa tubuh teman-teman saya… Meskipun kebijakan pemerintah Australia berubah, saya tidak bisa mengambil risiko untuk kembali ke Afghanistan.”

Perubahan drastis kebijakan Australia ini menyusul peningkatan jumlah pencari suaka yang menempuh proses untuk mendapatkan status pengungsi di Indonesia dalam dua bulan terakhir. Jumlah dua bulan terakhir ini sama dengan jumlah pengungsi pada tahun 2012 dan 2013. Hal ini menunjukkan dengan jelas bahwa kebijakan pemerintah Australia untuk menghentikan arus perahu ke Australia, tidak menghentikan upaya orang-orang melarikan diri untuk mencari perlindungan. Di sini jelaslah kelihatan narasi yang dibuat oleh pemerintah Australia, yaitu bahwa menghentikan perahu dari Indonesia akan menyelamatkan kehidupan, sulit untuk diterima akal sehat.

Mentalitas “benteng” dengan menutup pintu di hadapan meningkatnya penderitaan pengungsi, sungguh menyedihkan, sinis, dan tidak menyentuh kenyataan kondisi hidup pengungsi. Kebijakan “benteng” tersebut menambah resiko hidup pengungsi karena mereka dipaksa untuk menemukan jalur-jalur alternatif untuk mencari keselamatan. Pilihan yang tersisa hanyalah menyerahkan nasib mereka kepada para penyelundup.

Kebijakan baru ini akan ditafsirkan sebagai pengkhianatan terhadap retorika Australia untuk membangun perlindungan regional bagi para pengungsi. JRS berharap bahwa Australia akan membaharui pendiriannya dan mendukung inisiatif yang meningkatkan perlindungan bagi para pengungsi di kawasan ini. Kami menyerukan kepada negara-negara di Asia Tenggara untuk tetap memegang teguh prinsip kemanusiaan “non refoulement2 dan meningkatkan penerimaan dan perlindungan bagi mereka yang terpaksa mengungsi akibat penganiayaan di negara asal mereka. Negara seperti Libanon yang dengan ramah tamah dan hangat menampung lebih dari 1 juta pengungsi Suriah, adalah contoh yang baik untuk diikuti dan sebaiknya tidak mencontoh kebijakan yang didiskusikan dan diterapkan oleh negara-negara Barat.

Negara-negara berkembang menampung 86% dari pengungsi di seluruh dunia. Sepuluh tahun yang lalu, negara-negara yang sama menampung lebih 70%. Angka ini adalah angka tertinggi dalam lebih dari 2 dekade ini. Pakistan menerima jumlah pengungsi yang terbesar di dunia (sekitar 1,6 juta), diikuti oleh Iran, Libanon, Yordania, dan Turki. Libanon saat ini menampung jumlah pengungsi yang terbesar bila dibandingkan dengan total jumlah penduduknya. Satu dari empat penduduk Libanon adalah pengungsi.

Satu-satunya cara untuk menghentikan orang mengungsi adalah dengan memastikan keselamatan mereka di negara asal. Namun, hingga saat ini, akar-akar penyebab dan kondisi yang memaksa orang untuk mengungsi tetap tidak disentuh. Menutup pintu dan hati kita terhadap masalah pengungsi tidak akan menjamin martabat hidup mereka, serta tidak akan meningkatkan perlindungan serta stabilitas global dan regional.

Untuk informasi lebih lanjut, silakan menghubungi:

JRS International
Amaya Valcarcel
International Advocacy Coordinator
amaya.valcarcel@jrs.netJesuit Refugee Service Borgo Santo Spirito 4 Rome, Italy
Tel: +39 06 69868 468; +39 346 234 3841

James Stapleton
International Communications Coordinator
james.stapleton@jrs.netJesuit Refugee Service Borgo Santo Spirito 4 Rome, Italy
Tel: +39 06 69868 468; +39 346 234 3841
twitter: @stapletonjm; linkedin.com/in/stapletonjm
www.jrs.net
facebook.com/JesuitRefugeeService; facebook.com/ServicioJesuitaaRefugiados; facebook.com/ServiceJesuiteDesRefugies;  facebook.com/ServizioDeiGesuitiPeriRifugiatitwitter: @JesuitRefugee; @JrsInternaz

JRS Asia Pacific
Junita Calder
Regional Advocacy Communications Officer, JRS- Asia Pacific
adv.com@jrsap.org
www.jrsap.org / www.jrs.netPO Box 49, Sanampao Post Office, Bangkok 10406 Thailand 

JRS Indonesia
Lars Stenger
Jesuit Refugee Service Indonesia
indonesia@jrs.or.idGang Cabe DP III, No.9, Puren,
Pringwulung, Sleman, Yogyakarta 55283
Indonesia

Tel: +62 274 517 405, +62 274 543 824

JRS Australia
Oliver White
Head of Policy and Advocacy
Jesuit Refugee Service Australia 
oliver.white@jrs.org.auJesuit Refugee Service, 24 Roslyn Street, Elizabeth Bay NSW 2011
(PO Box 522 Kings Cross NSW 1340)
Office: +61 2 9356 3888
Mobile: +61 4 0632 8641
Facsimile: +61 2 9356 3021
Website: www.jrs.org.auTwitter: JRS_Aus

__________________

1. Bukan nama sebenarnya.

2. Prinsip kemanusiaan bahwa pencari suaka dan pengungsi tidak boleh dikembalikan ke negara asal bila keselamatan mereka terancam.

Pengungsi: Sebuah Peluang untuk Tumbuh Bersama

Jika kita sebagai keluarga manusia bersikeras untuk memandang pengungsi hanya sebagai beban, kita kehilangan peluang bagi solidaritas yang selalu menjadi peluang untuk saling belajar, saling memperkaya, dan saling menumbuhkan. Lanjutkan baca

Australia: menutup pintu di hadapan krisis kemanusiaan global

Yogyakarta, 20 November 2014. Dengan rasa sedih yang mendalam, Jesuit Refugee Service mengamati langkah mundur pemerintah Australia yang mengeluarkan sebuah perubahan kebijakan terhadap mereka yang sedang mencari perlindungan internasional di kawasan Asia Tenggara. Pada 18 November 2014, pemerintah Australia mengumumkan … Lanjutkan baca

Tanggap Darurat Gunung Kelud

Bersama dengan Komunitas Relawan Jogja Bersatu, JRS Indonesia mengambil bagian dalam respon emergency Gunung Kelud. Komunitas Relawan Jogja Bersatu sendiri adalah sebuah komunitas yang terdiri dari berbagai kelompok masyarakat, baik individu maupun mahasiswa di wilayah Yogyakarta, yang bersinergi dalam respon kebencanaan. Mereka hadir di lapangan untuk menemani, memberikan bantuan konseling, dan menyalurkan barang-barang yang sangat dibutuhkan. Dalam hal ini, JRS Indonesia memberikan support dana untuk kebutuhan operasional dan belanja barang, dan kehadiran di lapangan selama 2 hari, yaitu di tanggal 26-27 Februari 2014. Lanjutkan baca

33 Tahun Berlalu, Kebutuhan Pengungsi Menjadi Lebih Besar daripada Sebelumnya

Merayakan 33 tahun berada bersama dan melayani pengungsi, JRS ingin mendorong Anda untuk menebarkan keramahtamahanan dan dukungan kepada saudara-saudara kita yang ada di sini, yakni para pengungsi yang sedang mencari perlindungan. Lanjutkan baca

Vatikan: Paus Fransiskus Menyerukan Keramahtamahan dan Keadilan dalam Kunjungan ke Jesuit Refugee Service

“Memberikan sandwich itu tidaklah cukup jika tidak disertai dengan kemungkinan untuk belajar berdiri di atas dua kaki sendiri. Amal kasih yang tidak mengubah situasi orang miskin, tidaklah cukup. Belas kasih sejati, yang telah diberikan dan diajarkan oleh Allah kepada kita, menuntut keadilan dan cara agar orang miskin dapat menemukan jalan keluar dari kemiskinan.” Lanjutkan baca

JRS Bergabung dalam Seruan Lintas-Iman bagi Perlindungan terhadap Pengungsi

Jesuit Refugee Service bersama dengan badan PBB urusan Pengungsi (UNHCR) dan perwakilan dari sejumlah organisasi berbasis agama menyerukan perlindungan yang lebih besar bagi para Pengungsi.

Deklarasi multi bahasa setebal 16 halaman, yang dikenal sebagai sebuah Penegasan tentang Keramahan, merupakan yang pertama kali melibatkan UNHCR dan spektrum organisasi-organisasi berbasis agama. Lanjutkan baca

Penemanan JRS Indonesia bagi Pengungsi dan Pencari Suaka 2013

Pada bulan Mei 2013 JRS membantu SUAKA menyelenggarakan pertemuan singkat dengan para Diplomat tentang situasi Pengungsi dan Pencari Suaka di Indonesia. SUAKA dan JRS terlibat dalam Diskusi Kelompok Terfokus di kantor Komisi Nasional Hak Asasi Manusia yang mendiskusikan dan mendorong agar Pemerintah Indonesia meratifikasi konvensi tentang Status Pengungsi dan protokolnya. SUAKA terus memberikan bantuan hukum dan penemanan kepada Pencari Suaka yang sebagian besar merupakan rujukan dari JRS dalam proses Penentuan Status Pengungsi mereka. Saat ini system rujukan yang lebih komprehensif telah dikembangkan dalam kerjasama antara JRS dan SUAKA. Lanjutkan baca

Futsal

Minggu, 9 September 2012, malam. Dua belas orang laki-laki Afrika berjalan menuju ke suatu toko yang agak besar di Cipayung. Mereka itu pencari suaka yang berasal dari Somalia, Sudan, dan Ethiopia. Tempat tujuan mereka ada di lantai tiga di toko … Lanjutkan baca

Ulang tahun JRS Indonesia ke-31

Yogyakarta, 14 November 2011 – 31 tahun bukanlah waktu yang pendek untuk mengukur kehidupan. Selama 31 tahun perjalanan, JRS bangga akan warisan semangat dari Pedro Arrupe yang menggugah keprihatinan orang akan adanya pengungsi. Tahun ini, JRS Indonesia merayakan ulang tahunnya yang ke-31 dengan banyak cara yang sederhana. Lanjutkan baca

Hari Pengungsi Sedunia 2009

Dalam peringatan Hari Pengungsi Sedunia tanggal 20 Juni yang lalu, sekitar 50 orang termasuk dosen dan mahasiswa dari Indonesia, Thailand dan Burma/Myanmar berkumpul di Universitas Sanata Dharma Yogyakarta atas undangan JRS untuk menyaksikan sebuah film yang menggambarkan pengalaman dan tantangan yang dihadapi oleh para pengungsi di negara asal mereka dan di negara suaka (Malaysia). “Secara pribadi saya menghargai semua orang yang membantu mereka (pengungsi) dan menerimanya di negara mereka… mereka ini melarikan diri dan suara mereka menyentuh setiap kita,” ujar Lorence, mahasiswa asal Myanmar/Burma yang masih tersentuh dengan kisah yang disampaikan lewat film tersebut. Lanjutkan baca