Futsal

Senin, Oktober 15th, 2012

Batas akhir yang disebut “saat usai” merupakan sebentuk kepastian yang tak ada di Rumah Detensi Imigrasi

Minggu, 9 September 2012, malam. Dua belas orang laki-laki Afrika berjalan menuju ke suatu toko yang agak besar di Cipayung. Mereka itu pencari suaka yang berasal dari Somalia, Sudan, dan Ethiopia. Tempat tujuan mereka ada di lantai tiga di toko itu: lapangan futsal. Seluruh lapangan itu dilapisi karpet dengan permukaan rumput artifisial. Sejak akhir Juli 2012 JRS menyewa lapangan itu agar dapat digunakan oleh para pencari suaka tiga kali satu jam dalam sebulan.

 Futsal merupakan sarana bagi mereka untuk memperoleh dan memelihara kesehatan badan dan jiwa. Dalam dan melalui futsal, mereka dapat merasa percaya diri bila mereka memiliki pandangan yang baik mengenai diri mereka, bahwa mereka berharga dan memiliki kemampuan. Motivasi mereka bukanlah kemenangan angka—betapa pun itu penting dalam olahraga. Tanpa itu pun mereka tetap dapat mengalami kegembiraan bersama. Kepuasan itu akan membantu mereka untuk membangun kehidupan yang bermakna, baik selama maupun setelah mereka berolah raga.

Kita memperhatikan hal-hal yang bermakna bagi kita. Kita melakukan upaya yang optimal bagi hal-hal itu. Jika pendakian bermakna bagi seseorang, ia akan menyediakan waktu dan tenaga yang diperlukan untuk mencapai puncak gunung. Karena permainan futsal bermakna bagi para pencari suaka, mereka bermain futsal dengan cara yang benar, baik, dan indah. Futsal menjelmakan drama kehidupan komunitas yang menghargai kebenaran, kebaikan, dan keindahan.

Kebenaran

Kebenaran terpancar dari permainan mereka yang menjamin adanya peraturan yang sama bagi kedua tim, ukuran gawang yang sama, banyaknya pemain yang sama, wasit yang imparsial, dan pembagian waktu bagi dua belas orang pada jangka satu jam yang mereka miliki. Sepuluh orang bermain dan dua orang sambil menjadi wasit menunggu giliran mereka untuk bermain. Setiap sepuluh menit diadakan penggantian dua orang pemain.

Saat mulai dan saat usai diketahui: jam 20.30 permainan futsal mulai dan jam 21.30 usai. Batas akhir yang disebut “saat usai” merupakan sebentuk kepastian yang tak ada di Rumah Detensi Imigrasi (Rudenim). Pencari suaka dan pengungsi yang ditahan di dalam Rudenim disebut deteni. Apa perbedaan antara pengalaman narapidana yang dikurung di dalam sel penjara dan pengalaman deteni yang mengeram di dalam kerangkeng Rudenim? Seorang narapidana mengetahui berapa lama ia harus menunggu sejak saat mulainya masa hukuman sampai saat ia dibebaskan. Ia dapat menghitung hari-hari yang terus berkurang sampai saat usainya. Tetapi seorang deteni hanya dapat menghitung hari-hari yang terus bertambah sejak saat mulainya masa detensi karena ia tidak mengetahui saat usainya, kapan ia dapat keluar dari sel Rudenim.

Konflik di negeri-negeri asal para deteni pun tidak diketahui kapan usainya, berapa dekade lagi, atau bahkan berapa abad lagi. Kehidupan mereka yang diburamkan oleh ketakpastian kontras dengan futsal yang memiliki kepastian bahwa permainan akan usai dan mereka akan mengetahui hasilnya yaitu rasio skor antara dua tim yang bersaing.

Waktu terasa lebih berharga bagi para pemain pada saat-saat terakhir sebelum bel tanda “waktu habis” dibunyikan. Semakin dekat dengan saat usai, semakin kuatlah ikhtiar bersama untuk mencapai tujuan bersama dan semakin baguslah permainan mereka. Itulah mengapa banyak pertobatan terjadi kala saat usai-nya kehidupan mendekat. Kematian itulah kepastian mengenai akhir kehidupan. Orang-orang mencari suaka ke negeri lain karena mereka menolak datangnya ajal yang dilekaskan oleh orang-orang yang memburu mereka.

Futsal menyiratkan penolakan terhadap apa-yang-tak-seharusnya. Meskipun berkaitan dengan semangat perubahan dan pembebasan, penolakan itu bukanlah perkara pemecahan masalah. Tentu futsal tidak berfungsi untuk menyegerakan proses Penentuan Status Pengungsi. Apa-yang-ada dalam futsal hanya menunjukkan apa-yang-seharusnya dalam kehidupan. Saat usai yang dialami oleh para pencari suaka dalam futsal analog dengan saat usai yang diharapkan oleh para deteni dalam penantian masa depan.

Kebaikan

Kebaikan terpancar dari kerjasama, kegigihan, disiplin diri, kerelaan untuk berkorban demi sesuatu yang berharga, sikap hormat, dan kemurahan hati untuk memuji apa yang pantas dipuji di lapangan. Di luar lapangan juga ada keramahan untuk berkomunikasi dengan orang-orang lain yang tidak dikenal. Pencari suaka asal Sudan tersenyum dan menyapa orang-orang Indonesia yang dijumpainya, “Halo, apa kabar? Bagaimana futsal? Bagus?” Bahasa Indonesianya terdengar lucu.  “Saya mau main di sini.”

Pencari suaka yang lain, yang berasal dari Somalia, berkata kepada kami, “Lihat ini,” sambil menunjukkan tulang keringnya yang bengkak tertendang. “Saya akan sulit tidur nanti.” Itu saja. Ia tidak mempersoalkan orang yang tendangannya salah sasaran.

Lapangan futsal di Cipayung bukanlah Taman Firdaus tempat adanya kesempurnaan dan tiadanya masalah. Dalam upaya bersama kadang-kadang ada yang membuat kekeliruan. Tetapi terhadap kekeliruan itu mereka ditantang untuk bersikap positif dan bertanggung jawab. Kadang-kadang ada yang gagal untuk bersikap positif terhadap kekeliruan. Tetapi terhadap kegagalan itu pun mereka ditantang untuk bersikap positif.

Ada seseorang yang mengomel ketika ditentukan bahwa ia terkena giliran untuk berhenti bermain. “Ini tidak bagus. Kita ada di sini untuk bermain. Tidak untuk berkelahi.” Ia keluar dari lapangan dan berganti pakaian. Permainan dihentikan. Beberapa orang mendekatinya, berupaya untuk memahami keberatannya dan membujuk agar ia mau bertahan dalam kebersamaan. Ditolaknya bujukan itu. Ya sudahlah. Masih ada waktu, 20 menit sampai saat usai, dan permainan dilanjutkan. Ia membawa tasnya dan berjalan pulang. Lewat depan kami, ia pamit kepada kami. Apakah ia tidak mengetahui bahwa setiap sepuluh menit harus ada dua pemain yang diganti? Jika ia mengetahui dan menyetujui peraturan itu, apakah yang dipersoalkannya adalah cara yang dipraktikkan untuk menunjuk siapa yang keluar dan siapa yang masuk? Biarlah pertanyaan-pertanyaan itu tak terjawab. Yang pantas disyukuri, setiap pencari suaka di lapangan futsal memiliki kemerdekaan untuk melakukan apa yang dianggapnya lebih bernilai untuk dilakukan.

Keindahan

Keindahan alam dan budaya mengelilingi kita—entah kita menyadarinya atau tidak. Keindahan tak hanya ada dalam kebaruan, keluarbiasaan, dan kejutan. Keindahan juga ada dalam permainan futsal yang biasa. Salah satu faktor yang menentukan terpancarnya keindahan dari seni bermain futsal adalah kemampuan seorang pemain futsal untuk mengendalikan bola dengan kelincahan kaki dan kecerdikan kepalanya. Faktor yang lainnya adalah kesempatan yang—sering tak terduga—terbuka baginya untuk mengaktualisasikan kemampuan itu. Campuran kedua faktor itu—kemampuan dan kesempatan—memainkan peran dalam setiap peristiwa digiringnya bola, dikecohnya lawan, dan ditembakkannya bola ke gawang.

Kemampuan dan kesempatan yang ada dalam futsal para pencari suaka mengingatkan kita akan kemampuan dan kesempatan yang ada dalam kehidupan masyarakat. Jika setiap orang memberi sebanyak kemampuannya dan setiap orang menerima sebanyak kebutuhannya, pelbagai talenta di dalam suatu masyarakat memberi kontribusi bagi kesejahteraan bersama. Hal itu pernah ditunjukkan misalnya oleh orang-orang Kristiani di Antiokhia yang menyumbang sebesar kemampuan masing-masing bagi mereka yang paling menderita kelaparan di Yudea (Kisah Para Rasul 11:29).

Masyarakat menghargai kerja dan melihat ketergantungan sebagai keadaan yang normal dalam kehidupan anak kecil tetapi abnormal dalam kehidupan orang dewasa. Kemandirian (self-sufficiency) tampak terhormat dan ketergantungan tampak memalukan. Karena itu, hati kita patut tergerak oleh belas kasihan terhadap para pencari suaka, para pengungsi, dan para deteni yang memiliki kemampuan untuk bekerja tetapi secara legal tidak memiliki kesempatan untuk bekerja di Indonesia. Hukum melarang mereka untuk bekerja, maka mereka terpaksa memikul beban malunya ketergantungan. Jika hati kita tergerak oleh belas kasihan terhadap mereka, kita dapat berpartisipasi dalam upaya bersama untuk menolong mereka dengan proporsi yang sebanding dengan kemampuan dan kesempatan yang kita miliki. Apa yang disebut “kesempatan” itu sering merupakan perkara “kemauan.”

Peter Devantara dan Pius Marmanta

Pengungsi: Sebuah Peluang untuk Tumbuh Bersama

Jika kita sebagai keluarga manusia bersikeras untuk memandang pengungsi hanya sebagai beban, kita kehilangan peluang bagi solidaritas yang selalu menjadi peluang untuk saling belajar, saling memperkaya, dan saling menumbuhkan. Lanjutkan baca

Australia: menutup pintu di hadapan krisis kemanusiaan global

Yogyakarta, 20 November 2014. Dengan rasa sedih yang mendalam, Jesuit Refugee Service mengamati langkah mundur pemerintah Australia yang mengeluarkan sebuah perubahan kebijakan terhadap mereka yang sedang mencari perlindungan internasional di kawasan Asia Tenggara. Pada 18 November 2014, pemerintah Australia mengumumkan … Lanjutkan baca

Tanggap Darurat Gunung Kelud

Bersama dengan Komunitas Relawan Jogja Bersatu, JRS Indonesia mengambil bagian dalam respon emergency Gunung Kelud. Komunitas Relawan Jogja Bersatu sendiri adalah sebuah komunitas yang terdiri dari berbagai kelompok masyarakat, baik individu maupun mahasiswa di wilayah Yogyakarta, yang bersinergi dalam respon kebencanaan. Mereka hadir di lapangan untuk menemani, memberikan bantuan konseling, dan menyalurkan barang-barang yang sangat dibutuhkan. Dalam hal ini, JRS Indonesia memberikan support dana untuk kebutuhan operasional dan belanja barang, dan kehadiran di lapangan selama 2 hari, yaitu di tanggal 26-27 Februari 2014. Lanjutkan baca

33 Tahun Berlalu, Kebutuhan Pengungsi Menjadi Lebih Besar daripada Sebelumnya

Merayakan 33 tahun berada bersama dan melayani pengungsi, JRS ingin mendorong Anda untuk menebarkan keramahtamahanan dan dukungan kepada saudara-saudara kita yang ada di sini, yakni para pengungsi yang sedang mencari perlindungan. Lanjutkan baca

Vatikan: Paus Fransiskus Menyerukan Keramahtamahan dan Keadilan dalam Kunjungan ke Jesuit Refugee Service

“Memberikan sandwich itu tidaklah cukup jika tidak disertai dengan kemungkinan untuk belajar berdiri di atas dua kaki sendiri. Amal kasih yang tidak mengubah situasi orang miskin, tidaklah cukup. Belas kasih sejati, yang telah diberikan dan diajarkan oleh Allah kepada kita, menuntut keadilan dan cara agar orang miskin dapat menemukan jalan keluar dari kemiskinan.” Lanjutkan baca

JRS Bergabung dalam Seruan Lintas-Iman bagi Perlindungan terhadap Pengungsi

Jesuit Refugee Service bersama dengan badan PBB urusan Pengungsi (UNHCR) dan perwakilan dari sejumlah organisasi berbasis agama menyerukan perlindungan yang lebih besar bagi para Pengungsi.

Deklarasi multi bahasa setebal 16 halaman, yang dikenal sebagai sebuah Penegasan tentang Keramahan, merupakan yang pertama kali melibatkan UNHCR dan spektrum organisasi-organisasi berbasis agama. Lanjutkan baca

Penemanan JRS Indonesia bagi Pengungsi dan Pencari Suaka 2013

Pada bulan Mei 2013 JRS membantu SUAKA menyelenggarakan pertemuan singkat dengan para Diplomat tentang situasi Pengungsi dan Pencari Suaka di Indonesia. SUAKA dan JRS terlibat dalam Diskusi Kelompok Terfokus di kantor Komisi Nasional Hak Asasi Manusia yang mendiskusikan dan mendorong agar Pemerintah Indonesia meratifikasi konvensi tentang Status Pengungsi dan protokolnya. SUAKA terus memberikan bantuan hukum dan penemanan kepada Pencari Suaka yang sebagian besar merupakan rujukan dari JRS dalam proses Penentuan Status Pengungsi mereka. Saat ini system rujukan yang lebih komprehensif telah dikembangkan dalam kerjasama antara JRS dan SUAKA. Lanjutkan baca

Futsal

Minggu, 9 September 2012, malam. Dua belas orang laki-laki Afrika berjalan menuju ke suatu toko yang agak besar di Cipayung. Mereka itu pencari suaka yang berasal dari Somalia, Sudan, dan Ethiopia. Tempat tujuan mereka ada di lantai tiga di toko … Lanjutkan baca

Ulang tahun JRS Indonesia ke-31

Yogyakarta, 14 November 2011 – 31 tahun bukanlah waktu yang pendek untuk mengukur kehidupan. Selama 31 tahun perjalanan, JRS bangga akan warisan semangat dari Pedro Arrupe yang menggugah keprihatinan orang akan adanya pengungsi. Tahun ini, JRS Indonesia merayakan ulang tahunnya yang ke-31 dengan banyak cara yang sederhana. Lanjutkan baca

Hari Pengungsi Sedunia 2009

Dalam peringatan Hari Pengungsi Sedunia tanggal 20 Juni yang lalu, sekitar 50 orang termasuk dosen dan mahasiswa dari Indonesia, Thailand dan Burma/Myanmar berkumpul di Universitas Sanata Dharma Yogyakarta atas undangan JRS untuk menyaksikan sebuah film yang menggambarkan pengalaman dan tantangan yang dihadapi oleh para pengungsi di negara asal mereka dan di negara suaka (Malaysia). “Secara pribadi saya menghargai semua orang yang membantu mereka (pengungsi) dan menerimanya di negara mereka… mereka ini melarikan diri dan suara mereka menyentuh setiap kita,” ujar Lorence, mahasiswa asal Myanmar/Burma yang masih tersentuh dengan kisah yang disampaikan lewat film tersebut. Lanjutkan baca