JRS Bergabung dalam Seruan Lintas-Iman bagi Perlindungan terhadap Pengungsi

Rabu, Juli 17th, 2013

Pengungsi merindukan dunia di luar jeruji Rudenim

Jenewa, 10 July 2013 –  Jesuit Refugee Service bersama dengan badan PBB urusan Pengungsi (UNHCR) dan perwakilan dari sejumlah organisasi berbasis agama menyerukan perlindungan yang lebih besar bagi para Pengungsi.

Deklarasi multi bahasa setebal 16 halaman, yang dikenal sebagai sebuah Penegasan tentang Keramahan, merupakan yang pertama kali melibatkan UNHCR dan spektrum organisasi-organisasi berbasis agama.

Deklarasi ini disiapkan oleh kelompok antar-iman, yang diundang  oleh Komisi Tinggi urusan Pengungsi pada penutupan Dialog tentang Iman dan Perlindungan pada bulan Desember 2012. Penegasan tentang Keramahan memberikan prinsip-prinsip untuk memandu para pemimpin agama dalam menyediakan lingkungan yang ramah bagi para Pengungsi dan mereka yang terlantar, juga bagi mereka yang tak memiliki kewarganegaraan, dengan meningkatkan pemahaman masyarakat dan toleransi, serta memerangi xenophobia.

Teks tersebut mengacu kepada prinsip-prinsip dan nilai-nilai tentang keramahan yang dihayati bersama oleh banyak agama seperti Buddha, Kristen, Hindu, Islam dan Yahudi.

Sebuah surat yang diterbitkan oleh sejumlah lembaga Katolik yang ikut menandatangani,  meliputi Jesuit Refugee Service, Perwakilan Tetap Tahta Suci di Jenewa, Caritas Internationalis dan International Catholic Migration Commission menyatakan demikian:

“Kami melihat ini sebagai dokumen penting yang menyerukan langkah-langkah yang harus diambil untuk memerangi xenophobia (penyerangan langsung misalnya) atau dehumanisasi (penyebutan sebagai imigran illegal misalnya) terhadap orang-orang yang terpaksa mengungsi. Tentu saja, membagikan dokumen ini berarti memberikan peluang bagi para uskup, para pastor, para pimpinan dan pengurus lembaga-lembaga Katolik untuk memahami bahwa menyambut Pengungsi merupakan kewajiban moral, baik bagi mereka sendiri maupun bagi seluruh komunitas umat beriman”. 

Pada bulan November tahun ini, deklarasi tersebut akan diluncurkan secara resmi di Pusat Internasional Raja Abdullah untuk Dialog Antariman dan Antarbudaya di Wina, dalam sebuah konferensi yang diorganisasi oleh Religions for Peace yang menghimpun lebih dari 400 pemimpin agama dari seluruh dunia.

Organisasi lain yang terlibat meliputi Kantor Uskup Agung Canterbury, Caritas Internationalis, Pusat Studi Hindu Oxford, Fakultas Teologi Katolik Roma Universitas Wina, Dewan Gereja Sedunia, World Evangelical Alliance dan World Vision Internasional.

Welcoming the Stranger: Affirmations for Faith Leaders Welcoming the stranger (505)

Surat bersama sejumlah Lembaga Katolik Joint letter (438)

Australia: menutup pintu di hadapan krisis kemanusiaan global

Yogyakarta, 20 November 2014. Dengan rasa sedih yang mendalam, Jesuit Refugee Service mengamati langkah mundur pemerintah Australia yang mengeluarkan sebuah perubahan kebijakan terhadap mereka yang sedang mencari perlindungan internasional di kawasan Asia Tenggara. Pada 18 November 2014, pemerintah Australia mengumumkan … Lanjutkan baca

Tanggap Darurat Gunung Kelud

Bersama dengan Komunitas Relawan Jogja Bersatu, JRS Indonesia mengambil bagian dalam respon emergency Gunung Kelud. Komunitas Relawan Jogja Bersatu sendiri adalah sebuah komunitas yang terdiri dari berbagai kelompok masyarakat, baik individu maupun mahasiswa di wilayah Yogyakarta, yang bersinergi dalam respon kebencanaan. Mereka hadir di lapangan untuk menemani, memberikan bantuan konseling, dan menyalurkan barang-barang yang sangat dibutuhkan. Dalam hal ini, JRS Indonesia memberikan support dana untuk kebutuhan operasional dan belanja barang, dan kehadiran di lapangan selama 2 hari, yaitu di tanggal 26-27 Februari 2014. Lanjutkan baca

33 Tahun Berlalu, Kebutuhan Pengungsi Menjadi Lebih Besar daripada Sebelumnya

Merayakan 33 tahun berada bersama dan melayani pengungsi, JRS ingin mendorong Anda untuk menebarkan keramahtamahanan dan dukungan kepada saudara-saudara kita yang ada di sini, yakni para pengungsi yang sedang mencari perlindungan. Lanjutkan baca

Vatikan: Paus Fransiskus Menyerukan Keramahtamahan dan Keadilan dalam Kunjungan ke Jesuit Refugee Service

“Memberikan sandwich itu tidaklah cukup jika tidak disertai dengan kemungkinan untuk belajar berdiri di atas dua kaki sendiri. Amal kasih yang tidak mengubah situasi orang miskin, tidaklah cukup. Belas kasih sejati, yang telah diberikan dan diajarkan oleh Allah kepada kita, menuntut keadilan dan cara agar orang miskin dapat menemukan jalan keluar dari kemiskinan.” Lanjutkan baca

JRS Bergabung dalam Seruan Lintas-Iman bagi Perlindungan terhadap Pengungsi

Jesuit Refugee Service bersama dengan badan PBB urusan Pengungsi (UNHCR) dan perwakilan dari sejumlah organisasi berbasis agama menyerukan perlindungan yang lebih besar bagi para Pengungsi.

Deklarasi multi bahasa setebal 16 halaman, yang dikenal sebagai sebuah Penegasan tentang Keramahan, merupakan yang pertama kali melibatkan UNHCR dan spektrum organisasi-organisasi berbasis agama. Lanjutkan baca

Penemanan JRS Indonesia bagi Pengungsi dan Pencari Suaka 2013

Pada bulan Mei 2013 JRS membantu SUAKA menyelenggarakan pertemuan singkat dengan para Diplomat tentang situasi Pengungsi dan Pencari Suaka di Indonesia. SUAKA dan JRS terlibat dalam Diskusi Kelompok Terfokus di kantor Komisi Nasional Hak Asasi Manusia yang mendiskusikan dan mendorong agar Pemerintah Indonesia meratifikasi konvensi tentang Status Pengungsi dan protokolnya. SUAKA terus memberikan bantuan hukum dan penemanan kepada Pencari Suaka yang sebagian besar merupakan rujukan dari JRS dalam proses Penentuan Status Pengungsi mereka. Saat ini system rujukan yang lebih komprehensif telah dikembangkan dalam kerjasama antara JRS dan SUAKA. Lanjutkan baca

Futsal

Minggu, 9 September 2012, malam. Dua belas orang laki-laki Afrika berjalan menuju ke suatu toko yang agak besar di Cipayung. Mereka itu pencari suaka yang berasal dari Somalia, Sudan, dan Ethiopia. Tempat tujuan mereka ada di lantai tiga di toko … Lanjutkan baca

Ulang tahun JRS Indonesia ke-31

Yogyakarta, 14 November 2011 – 31 tahun bukanlah waktu yang pendek untuk mengukur kehidupan. Selama 31 tahun perjalanan, JRS bangga akan warisan semangat dari Pedro Arrupe yang menggugah keprihatinan orang akan adanya pengungsi. Tahun ini, JRS Indonesia merayakan ulang tahunnya yang ke-31 dengan banyak cara yang sederhana. Lanjutkan baca

Hari Pengungsi Sedunia 2009

Dalam peringatan Hari Pengungsi Sedunia tanggal 20 Juni yang lalu, sekitar 50 orang termasuk dosen dan mahasiswa dari Indonesia, Thailand dan Burma/Myanmar berkumpul di Universitas Sanata Dharma Yogyakarta atas undangan JRS untuk menyaksikan sebuah film yang menggambarkan pengalaman dan tantangan yang dihadapi oleh para pengungsi di negara asal mereka dan di negara suaka (Malaysia). “Secara pribadi saya menghargai semua orang yang membantu mereka (pengungsi) dan menerimanya di negara mereka… mereka ini melarikan diri dan suara mereka menyentuh setiap kita,” ujar Lorence, mahasiswa asal Myanmar/Burma yang masih tersentuh dengan kisah yang disampaikan lewat film tersebut. Lanjutkan baca