Pastor Thomas Aquinas Maswan Susinto, SJ: Pengungsi Ingin Hidup Damai

Senin, Juli 2nd, 2018

Pengungsi, sama seperti kita, ingin hidup damai, bermartabat, dan berkontribusi terhadap masyarakat.

Paus Fransiskus berulang kali mengunjungi para pengungsi, menyapa mereka dan mendorong kepedulian terhadap mereka. Ia bahkan pernah memboyong tiga keluarga pengungsi Suriah ke Vatikan. Bagaimana pandangan dan ajaran Gereja terkait pengungsi? Berikut petikan wawancara Majalah Hidup dengan Direktur Jesuit Refugee Service (JRS) Indonesia, Pastor Maswan.

Romo Maswan Susinto SJ JRS Indonesia 1

Apa yang melatarbelakangi Paus Fransiskus memberi perhatian khusus kepada pengungsi?

Paus Fransiskus adalah anak dari keluarga imigran. Maka, dia amat memahami suka duka pengungsi dan migran. Ia pun amat mengerti apa sumbangan positif pengungsi dan migran bagi masyarakat yang dengan ramah menerima mereka.

Dalam sebuah cuitan twitter akun @Pontifex pada 15 April 2016, Paus Fransiskus menyampaikan: “Pengungsi bukan hanya deretan angka, mereka adalah sesama manusia yang memiliki wajah, nama, kisah, dan perlu mendapatkan perlakuan yang layak”.

Saya kira, Paus Fransiskus ingin menghidupkan tradisi Gereja yang memberikan suaka atau perlindungan bagi mereka yang mengungsi dan terancam nyawanya. Khususnya pada masa ini, Gereja tidak ingin berpangku tangan ketika jumlah orang yang terpaksa meninggalkan kampung halamannya (forcibly displaced persons) akibat persekusi, perang, dan konflik di seluruh dunia telah mencapai jumlah sekitar 65 juta.

Maka, dalam berbagai kesempatan, Paus Fransiskus membuat tindakan simbolik yang mengajak kita semua untuk membebaskan diri dari ketakutan, ketidakpedulian, dan kecurigaan terhadap pengungsi dan migran. Ia merayakan misa di Lampedusa, Italia pada 2013 dengan altar yang dirangkai dari pecahan kapal pengungsi yang karam. Pada Kamis Putih 2016, ia membasuh kaki para pengungsi.

Siapakah pengungsi menurut Gereja?

Gereja memiliki pendangan yang luas tentang siapa yang disebut sebagai pengungsi, khususnya dalam dokumen Dewan Kepausan tahun 1992 berjudul “Pengungsi: Tantangan bagi Solidaritas”. Gereja merumuskannya sebagai pengungsi de facto.

Pengungsi de facto mencakup pertama, definisi pengungsi menurut Komisi Tinggi PBB untuk Urusan Pengungsi, yaitu orang yang mengalami persekusi karena ras, agama, kebangsaan, keanggotaaan dalam kelompok sosial tertentu, atau pendapat politik, dan terpaksa mengungsi dengan melintas batas negara. Kedua, orang yang terpaksa berpindah karena mengalami persekusi, namun tidak melintas batas negara (pengungsi internal). Ketiga, orang yang terpaksa berpindah sebagai korban konflik bersenjata, kesalahan kebijakan ekonomi, dan korban bencana alam.

Setiap tahun, Paus juga menyampaikan Pesan pada Hari Migran dan Pengungsi Sedunia. Gereja memperingati hari ini pada Minggu kedua atau ketiga bulan Januari.

Mengapa Gereja perlu memperhatikan pengungsi?

Dari kisah Injil, kita tahu bahwa Tuhan bersama Keluarga Kudus Nazaret pernah mengungsi ke Mesir akibat ancaman pembunuhan oleh Herodes. Ditilik dari definisi pengungsi menurut Konvensi 1951, Yesus pasti mendapat status pengungsi. Yesus pun menyamakan diri-Nya dengan mereka yang lapar, haus, telanjang, sakit, dan terasing (Matius 25:31-46).

Pengungsi dan migran mengalami semua itu. Tuhan berkenan berbela rasa dengan mereka. Sehingga, apa yang kita lakukan terhadap mereka yang paling rentan, termasuk para pengungsi, kita lakukan untuk Tuhan.

Dalam Perjanjian Lama, kita pun menyimak: “Jangan menindas orang asing yang ada di antara kalian. Kamu mengetahui jiwa orang asing, sebab kamu pun dahulu adalah asing di tanah Mesir” (Kel. 22:21). Kala itu, orang asing yang tidak punya keterikatan pada suatu kelompok kekerabatan, sangatlah rentan dan seringkali miskin, sama seperti para migran dan pengungsi saat ini.

Karena itu, mereka perlu mendapatkan pertolongan khusus. Bahkan, tersurat pula suatu cinta spesial: “Tuhan mengasihi orang asing” (Ulangan 10:18). Atau dalam Mazmur 146: “Tuhan menjaga orang-orang asing”.

Sekarang ini, sejauh mana langkah strategis Gereja universal dalam membela hak para pengungsi?

Pada tahun 2017, Paus Fransiskus secara pribadi telah mendorong lahirnya Seksi Migran dan Pengungsi. Seksi ini telah menerbitkan 20 butir aksi yang merupakan simpulan dari praktik-praktik baik Gereja di berbagai tempat ketika berbela rasa terhadap para pengungsi dan migran. Butir aksi tersebut menjadi sumbang saran dan solusi yang Gereja tawarkan kepada dunia untuk merespons masalah pengungsi dan migran.

Dokumen itu menjadi sumbangan Gereja dalam proses menuju kesepakatan global tentang pengungsi dan migran dalam Sidang Umum PBB pada akhir 2018. Pesan kunci Gereja dari ke-20 butir tersebut diungkapkan dalam empat kata kerja, menyambut, melindungi, memberdayakan dan mengintegrasikan pengungsi dan migran dalam kehidupan bersama.

Apa hambatan yang Gereja hadapi dalam melayani pengungsi lintas batas?

Dari pengalaman, Gereja setempat kadang ragu untuk mendampingi mereka karena belum tahu mau berbuat apa. Karena itu, biasanya kami berbagi pengalaman perjumpaan dengan pengungsi kepada komunitas Gereja setempat: tentang siapakah para pengungsi ini, mengapa mereka terpaksa mengungsi, proses apa yang mereka harus tempuh di Indonesia untuk mendapatkan perlindungan internasional.

Stres dan kesulitan apa yang mereka hadapi karena masih dilarang bekerja, ketidakpastian apa yang mereka hadapi. Selain itu Gereja perlu memahami kekerasan apa yang sering mereka alami atau apa kerinduan dan harapan mereka. Gereja juga harus peduli pada potensi dan bakat mereka dan bagaimana mereka bertahan hidup di Indonesia.

Singkatnya, pengungsi adalah sama seperti kita semua yang ingin hidup damai dan bermartabat, serta berkontribusi terhadap masyarakat. Ketika mulai merasakan bahwa solidaritas itu tanpa sekat, komunitas Gereja setempat biasanya mulai bergerak untuk melakukan tindakan nyata. Ini sebagai wujud keramahtamahan terhadap pengungsi.

Selanjutnya, barangkali adalah perlunya perluasan mandat perhatian bagi pengungsi dari komisi dalam Gereja setempat yang relevan untuk bekerja dengan isu pengungsi. Dalam hal ini komisi yang terkait dengan keadilan dan perdamaian serta karya pastoral bagi migran dan perantau. Bila perdagangan manusia menjadi salah satu fokus keprihatinan sosial Gereja Indonesia, pengungsi pun seringkali adalah korban perdagangan manusia.

Hermina Wulohering – Majalah Hidup

http://www.hidupkatolik.com/2018/06/13/22243/pastor-thomas-aquinas-maswan-susinto-sj-pengungsi-ingin-hidup-damai/

Pastor Thomas Aquinas Maswan Susinto, SJ: Pengungsi Ingin Hidup Damai

Paus Fransiskus berulang kali mengunjungi para pengungsi, menyapa mereka dan mendorong kepedulian terhadap mereka. Ia bahkan pernah memboyong tiga keluarga pengungsi Suriah ke Vatikan. Bagaimana pandangan dan ajaran Gereja terkait pengungsi? Lanjutkan baca

Pengungsi: Sebuah Peluang untuk Tumbuh Bersama

Jika kita sebagai keluarga manusia bersikeras untuk memandang pengungsi hanya sebagai beban, kita kehilangan peluang bagi solidaritas yang selalu menjadi peluang untuk saling belajar, saling memperkaya, dan saling menumbuhkan. Lanjutkan baca

Australia: menutup pintu di hadapan krisis kemanusiaan global

Yogyakarta, 20 November 2014. Dengan rasa sedih yang mendalam, Jesuit Refugee Service mengamati langkah mundur pemerintah Australia yang mengeluarkan sebuah perubahan kebijakan terhadap mereka yang sedang mencari perlindungan internasional di kawasan Asia Tenggara. Pada 18 November 2014, pemerintah Australia mengumumkan … Lanjutkan baca

Tanggap Darurat Gunung Kelud

Bersama dengan Komunitas Relawan Jogja Bersatu, JRS Indonesia mengambil bagian dalam respon emergency Gunung Kelud. Komunitas Relawan Jogja Bersatu sendiri adalah sebuah komunitas yang terdiri dari berbagai kelompok masyarakat, baik individu maupun mahasiswa di wilayah Yogyakarta, yang bersinergi dalam respon kebencanaan. Mereka hadir di lapangan untuk menemani, memberikan bantuan konseling, dan menyalurkan barang-barang yang sangat dibutuhkan. Dalam hal ini, JRS Indonesia memberikan support dana untuk kebutuhan operasional dan belanja barang, dan kehadiran di lapangan selama 2 hari, yaitu di tanggal 26-27 Februari 2014. Lanjutkan baca

33 Tahun Berlalu, Kebutuhan Pengungsi Menjadi Lebih Besar daripada Sebelumnya

Merayakan 33 tahun berada bersama dan melayani pengungsi, JRS ingin mendorong Anda untuk menebarkan keramahtamahanan dan dukungan kepada saudara-saudara kita yang ada di sini, yakni para pengungsi yang sedang mencari perlindungan. Lanjutkan baca

Vatikan: Paus Fransiskus Menyerukan Keramahtamahan dan Keadilan dalam Kunjungan ke Jesuit Refugee Service

“Memberikan sandwich itu tidaklah cukup jika tidak disertai dengan kemungkinan untuk belajar berdiri di atas dua kaki sendiri. Amal kasih yang tidak mengubah situasi orang miskin, tidaklah cukup. Belas kasih sejati, yang telah diberikan dan diajarkan oleh Allah kepada kita, menuntut keadilan dan cara agar orang miskin dapat menemukan jalan keluar dari kemiskinan.” Lanjutkan baca

JRS Bergabung dalam Seruan Lintas-Iman bagi Perlindungan terhadap Pengungsi

Jesuit Refugee Service bersama dengan badan PBB urusan Pengungsi (UNHCR) dan perwakilan dari sejumlah organisasi berbasis agama menyerukan perlindungan yang lebih besar bagi para Pengungsi.

Deklarasi multi bahasa setebal 16 halaman, yang dikenal sebagai sebuah Penegasan tentang Keramahan, merupakan yang pertama kali melibatkan UNHCR dan spektrum organisasi-organisasi berbasis agama. Lanjutkan baca

Penemanan JRS Indonesia bagi Pengungsi dan Pencari Suaka 2013

Pada bulan Mei 2013 JRS membantu SUAKA menyelenggarakan pertemuan singkat dengan para Diplomat tentang situasi Pengungsi dan Pencari Suaka di Indonesia. SUAKA dan JRS terlibat dalam Diskusi Kelompok Terfokus di kantor Komisi Nasional Hak Asasi Manusia yang mendiskusikan dan mendorong agar Pemerintah Indonesia meratifikasi konvensi tentang Status Pengungsi dan protokolnya. SUAKA terus memberikan bantuan hukum dan penemanan kepada Pencari Suaka yang sebagian besar merupakan rujukan dari JRS dalam proses Penentuan Status Pengungsi mereka. Saat ini system rujukan yang lebih komprehensif telah dikembangkan dalam kerjasama antara JRS dan SUAKA. Lanjutkan baca

Futsal

Minggu, 9 September 2012, malam. Dua belas orang laki-laki Afrika berjalan menuju ke suatu toko yang agak besar di Cipayung. Mereka itu pencari suaka yang berasal dari Somalia, Sudan, dan Ethiopia. Tempat tujuan mereka ada di lantai tiga di toko … Lanjutkan baca

Ulang tahun JRS Indonesia ke-31

Yogyakarta, 14 November 2011 – 31 tahun bukanlah waktu yang pendek untuk mengukur kehidupan. Selama 31 tahun perjalanan, JRS bangga akan warisan semangat dari Pedro Arrupe yang menggugah keprihatinan orang akan adanya pengungsi. Tahun ini, JRS Indonesia merayakan ulang tahunnya yang ke-31 dengan banyak cara yang sederhana. Lanjutkan baca