Vatikan: Paus Fransiskus Menyerukan Keramahtamahan dan Keadilan dalam Kunjungan ke Jesuit Refugee Service

Senin, Oktober 7th, 2013

Paus berkunjung ke Jesuit Refugee Service Italia

Pada bulan September 2013, setelah kunjungannya ke Lampedusa, Paus Fransiskus kembali menyerukan dukungan untuk menyambut pengungsi pada saat mengunjungi dapur umum Centro Astalli (Jesuit Refugee Service Italia).

Pengungsi menanggung perjalanan yang mengerikan dengan melarikan diri dari kekerasan dan konflik di negara-negara asal mereka, dengan harapan bahwa mereka dapat memberikan kehidupan yang lebih baik bagi anak-anak mereka. Paus menyampaikan hal ini kepada para hadirin yang berkumpul di Chiesa del Gesù, sebuah gereja Jesuit di pusat kota Roma, tempat kantor pusat JRS Italia berada.

Ketika berbicara tentang populasi pengungsi dari seluruh dunia, yang berasal dari begitu banyak agama, budaya, dan keyakinan yang berbeda, ia menekankan tentang kekayaan keanekaragaman yang dibawa oleh pengungsi bagi masyarakat yang menerima mereka.

“Kita jangan takut pada perbedaan! Persaudaraan membuat kita menyadari bahwa perbedaan adalah kekayaan, hadiah bagi kita semua! Sebuah persaudaraan sepanjang hidup!”

Alih-alih mendapatkan peluang untuk membagikan keanekaragaman budaya mereka, pengungsi di seluruh dunia sering “terpaksa hidup dalam situasi sulit dan kadang-kadang hina, tanpa kemungkinan untuk membangun kehidupan yang bermartabat, atau berpikir tentang masa depan yang baru!”

Namun, Paus melanjutkan, “orang-orang miskin merupakan guru yang istimewa bagi pengetahuan kita tentang Allah. Kerapuhan dan kesederhanaan mereka akan membuka kedok egoisme kita, rasa aman kita yang palsu, dan kepura-puraan kita tentang kemandirian …”.

Keramahtamahan

Menyambut kunjungan bersejarah Paus Fransiskus kepada pengungsi, Direktur JRS Internasional, Peter Balleis SJ, menyampaikan bahwa kata-kata Paus menyentuh hati staf dan sukarelawan di seluruh dunia.

“Ingatan tentang hari istimewa ini akan memberikan sukacita yang besar bagi kita dan membantu kita untuk melayani pengungsi dengan komitmen dan dedikasi yang lebih besar. Pesannya masuk ke dalam jantung kerja organisasi kita: keramahtamahan”.

“Karya JRS Italia adalah mikrokosmos dari pekerjaan kita di seluruh dunia. Tim kita pada tahun ini akan memberikan pelayanan kepada lebih dari 800.000 orang dan memberikan bantuan darurat kepada ribuan, bahkan ratusan ribu orang dalam situasi seperti di Suriah. Sebagaimana diskriminasi dan marjinalisasi menghambat kemampuan pengungsi untuk mengakses pelayanan publik dan mencari pekerjaan di Roma, demikian pula hal yang sama terjadi di kawasan perkotaan lainnya. Kita telah menyaksikan bagaimana di kota-kota yang beragam seperti Bangkok , Bogota, dan Nairobi, keramahtamahan memperkuat solidaritas masyarakat yang menguntungkan semua pihak,” kata Pater Balleis .

“Bagi kita keramahtamahan adalah inti dari semua yang kita lakukan dalam penemanan, pelayanan dan advokasi. Keramahtamahan adalah bagaimana kita menyambut pengungsi sebagai manusia. Dari perjumpaan ini, kita memahami bagaimana cara terbaik untuk melayani mereka. Dengan mengembangkan relasi dengan para pengungsi itulah, kita mampu melakukan advokasi untuk membela hak-hak mereka.”

Keadilan

Keramahtamahan itu sendiri tidak cukup, kata Paus Fransiskus.

“Memberikan sandwich itu tidaklah cukup jika tidak disertai dengan kemungkinan untuk belajar berdiri di atas dua kaki sendiri. Amal kasih yang tidak mengubah situasi orang miskin, tidaklah cukup. Belas kasih sejati, yang telah diberikan dan diajarkan oleh Allah kepada kita, menuntut keadilan dan  cara agar orang miskin dapat menemukan jalan keluar dari kemiskinan.”

Perutusan bagi orang miskin dan upaya memajukan hak asasi manusia ini, tambah Paus, semestinya tidak hanya dipercayakan kepada para ahli, tetapi juga harus menggerakkan seluruh anggota Gereja dan “memusatkan perhatian seluruh karya pastoral, pendidikan imam masa depan, dan biarawan-biarawati, serta  komitmen sehari-hari semua paroki, gerakan, dan kelompok gerejani lainnya.”

Pengungsi: Sebuah Peluang untuk Tumbuh Bersama

Jika kita sebagai keluarga manusia bersikeras untuk memandang pengungsi hanya sebagai beban, kita kehilangan peluang bagi solidaritas yang selalu menjadi peluang untuk saling belajar, saling memperkaya, dan saling menumbuhkan. Lanjutkan baca

Australia: menutup pintu di hadapan krisis kemanusiaan global

Yogyakarta, 20 November 2014. Dengan rasa sedih yang mendalam, Jesuit Refugee Service mengamati langkah mundur pemerintah Australia yang mengeluarkan sebuah perubahan kebijakan terhadap mereka yang sedang mencari perlindungan internasional di kawasan Asia Tenggara. Pada 18 November 2014, pemerintah Australia mengumumkan … Lanjutkan baca

Tanggap Darurat Gunung Kelud

Bersama dengan Komunitas Relawan Jogja Bersatu, JRS Indonesia mengambil bagian dalam respon emergency Gunung Kelud. Komunitas Relawan Jogja Bersatu sendiri adalah sebuah komunitas yang terdiri dari berbagai kelompok masyarakat, baik individu maupun mahasiswa di wilayah Yogyakarta, yang bersinergi dalam respon kebencanaan. Mereka hadir di lapangan untuk menemani, memberikan bantuan konseling, dan menyalurkan barang-barang yang sangat dibutuhkan. Dalam hal ini, JRS Indonesia memberikan support dana untuk kebutuhan operasional dan belanja barang, dan kehadiran di lapangan selama 2 hari, yaitu di tanggal 26-27 Februari 2014. Lanjutkan baca

33 Tahun Berlalu, Kebutuhan Pengungsi Menjadi Lebih Besar daripada Sebelumnya

Merayakan 33 tahun berada bersama dan melayani pengungsi, JRS ingin mendorong Anda untuk menebarkan keramahtamahanan dan dukungan kepada saudara-saudara kita yang ada di sini, yakni para pengungsi yang sedang mencari perlindungan. Lanjutkan baca

Vatikan: Paus Fransiskus Menyerukan Keramahtamahan dan Keadilan dalam Kunjungan ke Jesuit Refugee Service

“Memberikan sandwich itu tidaklah cukup jika tidak disertai dengan kemungkinan untuk belajar berdiri di atas dua kaki sendiri. Amal kasih yang tidak mengubah situasi orang miskin, tidaklah cukup. Belas kasih sejati, yang telah diberikan dan diajarkan oleh Allah kepada kita, menuntut keadilan dan cara agar orang miskin dapat menemukan jalan keluar dari kemiskinan.” Lanjutkan baca

JRS Bergabung dalam Seruan Lintas-Iman bagi Perlindungan terhadap Pengungsi

Jesuit Refugee Service bersama dengan badan PBB urusan Pengungsi (UNHCR) dan perwakilan dari sejumlah organisasi berbasis agama menyerukan perlindungan yang lebih besar bagi para Pengungsi.

Deklarasi multi bahasa setebal 16 halaman, yang dikenal sebagai sebuah Penegasan tentang Keramahan, merupakan yang pertama kali melibatkan UNHCR dan spektrum organisasi-organisasi berbasis agama. Lanjutkan baca

Penemanan JRS Indonesia bagi Pengungsi dan Pencari Suaka 2013

Pada bulan Mei 2013 JRS membantu SUAKA menyelenggarakan pertemuan singkat dengan para Diplomat tentang situasi Pengungsi dan Pencari Suaka di Indonesia. SUAKA dan JRS terlibat dalam Diskusi Kelompok Terfokus di kantor Komisi Nasional Hak Asasi Manusia yang mendiskusikan dan mendorong agar Pemerintah Indonesia meratifikasi konvensi tentang Status Pengungsi dan protokolnya. SUAKA terus memberikan bantuan hukum dan penemanan kepada Pencari Suaka yang sebagian besar merupakan rujukan dari JRS dalam proses Penentuan Status Pengungsi mereka. Saat ini system rujukan yang lebih komprehensif telah dikembangkan dalam kerjasama antara JRS dan SUAKA. Lanjutkan baca

Futsal

Minggu, 9 September 2012, malam. Dua belas orang laki-laki Afrika berjalan menuju ke suatu toko yang agak besar di Cipayung. Mereka itu pencari suaka yang berasal dari Somalia, Sudan, dan Ethiopia. Tempat tujuan mereka ada di lantai tiga di toko … Lanjutkan baca

Ulang tahun JRS Indonesia ke-31

Yogyakarta, 14 November 2011 – 31 tahun bukanlah waktu yang pendek untuk mengukur kehidupan. Selama 31 tahun perjalanan, JRS bangga akan warisan semangat dari Pedro Arrupe yang menggugah keprihatinan orang akan adanya pengungsi. Tahun ini, JRS Indonesia merayakan ulang tahunnya yang ke-31 dengan banyak cara yang sederhana. Lanjutkan baca

Hari Pengungsi Sedunia 2009

Dalam peringatan Hari Pengungsi Sedunia tanggal 20 Juni yang lalu, sekitar 50 orang termasuk dosen dan mahasiswa dari Indonesia, Thailand dan Burma/Myanmar berkumpul di Universitas Sanata Dharma Yogyakarta atas undangan JRS untuk menyaksikan sebuah film yang menggambarkan pengalaman dan tantangan yang dihadapi oleh para pengungsi di negara asal mereka dan di negara suaka (Malaysia). “Secara pribadi saya menghargai semua orang yang membantu mereka (pengungsi) dan menerimanya di negara mereka… mereka ini melarikan diri dan suara mereka menyentuh setiap kita,” ujar Lorence, mahasiswa asal Myanmar/Burma yang masih tersentuh dengan kisah yang disampaikan lewat film tersebut. Lanjutkan baca