Hari Pengungsi Sedunia 2009

Rabu, Juli 1st, 2009

 “… dan saya kira bahwa saya dapat melakukan sesuatu tentang itu demikian juga kamu. Mungkin dengan bantuan dan dukungan kita, mereka tidak harus berlari lagi.” Kata-kata penutup dari film “Running-Berlari” membuat ruangan sunyi sebentar. Penonton masih menatap layar bertuliskan logo SUARAM (Suara Masyarakat Malaysia, sebuah LSM yang mengadvokasi hak-hak pengungsi).

Dalam  peringatan Hari Pengungsi Sedunia tanggal 20 Juni yang lalu, sekitar 50 orang termasuk dosen  dan mahasiswa dari Indonesia, Thailand dan Burma/Myanmar berkumpul di Universitas Sanata Dharma Yogyakarta atas undangan JRS untuk menyaksikan sebuah film yang menggambarkan pengalaman dan tantangan yang dihadapi oleh para pengungsi di negara asal mereka dan di negara suaka (Malaysia). “Secara pribadi saya menghargai semua orang yang membantu mereka (pengungsi) dan menerimanya di negara mereka… mereka ini melarikan diri dan suara mereka menyentuh setiap kita,” ujar Lorence, mahasiswa asal Myanmar/Burma yang masih tersentuh dengan kisah yang disampaikan lewat film tersebut.

Para penonton terkejut saat saat mengetahui bahwa ada lebih dari 16 juta pengungsi di dunia yang menghadapi tantangan yang sama seperti potret orang-orang dalam “Berlari”: terpaksa meninggalkan negara asal mereka untuk mencari tempat hidup yang aman secara damai dan bermartabat namun menghadapi kecurigaan, dilabeli sebagai imigran gelap yang dicabut haknya dengan memasukkan mereka dalam rumah detensi atau dikirim kembali ke negara asal mereka, di mana mereka seringkali menghadapi penyiksaan dan penganiayaan karena ras, agama, kebangsaan, anggota suatu kelompok sosial tertentu atau karena pendapat politik mereka.

 “Indonesia baru-baru ini memberikan suaka bagi 441 pengungsi dan 1.487 orang lainnya yang memohon status pengungsi di sini kebanyakan berasal dari negara yang tengah berkonflik seperti Afghanistan, Sri Lanka, Burma, Irak dan Somalia”, kata Nurul, National Protection Officer UNHCR dalam presentasinya. Para pencari suaka dan pengungsi ini ditempatkan di 18 lokasi yang berbeda di Indonesia, termasuk losmen, kamp, dan rumah detensi di Jakarta, Bogor, aceh, Tanjung Pinang, dan Medan.

Melanjutkan pertanyaan dan komentar mengenai situasi dan kondisi para pengungsi dan pencari suaka, satu peserta bertanya, “Apa langkah konkrit yang dapat kita ambil untuk membantu mereka?” “Ada usaha yang biasanya dilakukan pemerintah, PBB, LSM dan  orang awam untuk memenuhi kebutuhan orang-orang yang melarikan diri dari negara asal mereka. Dengan keterbukaan dan menceritakan kisah mereka seperti yang telah dilakukan dalam film tadi, kita dapat mendorong adanya pengertian, solidaritas dan dukungan bagi para pencari suaka untuk menghadapi tantangan potret mereka di media sebagai imigran gelap yang mencoba memasuki suatu negara. Ini merupakan langkah yang awal, “ jelas Lars, Information and Advocacy Officer JRS Indonesia.

Seperti yang diungkapkan Christy, pengungsi dari etnis minoritas Chin di Burma dalam film ini: “Saya menyadari bahwa dengan menjadi pengungsi, kami telah kehilangan martabat kami sebagai manusia dan perempuan. Apa yang saya inginkan untuk para pengungsi? Saya ingin meminta agar kami bisa tinggal dengan damai.” Dengan memperbolehkan pengungsi dan pencari suaka untuk tinggal secara damai dan bermartabat hanya dapat dicapai dengan usaha dan solidaritas seperti yang dilakukan oleh masyarakat Aceh dalam membantu pengungsi Rohingya setelah mereka terdampar di Sabang dan Aceh Timur. Seperti yang diungkapkan oleh Baskara, SJ, yang juga moderator acara ini, “Bumi kita hanya mengenal satu spesies yang rela membunuh sesamanya dan memaksa mereka untuk melarikan diri. Namun spesies ini juga mempunyai budaya solidaritas dan kemanusiaan. Atau akankah kita harus menyebutnya berbeda?

Pada Hari Pengungsi Sedunia ini, tulisan Direktur Nasional JRS Indonesia, Adri Suyadi, SJ yang bertajuk “Pengungsi yang Dilupakan” dimuat di harian Kompas. Tulisan ini yang menyerukan penggunaan definisi secara luas dari penggunaan pengungsi de-facto yang juga merupakan usaha untuk mendukung para pengungsi yang belum menemukan solusi yang berdaya tahan yang memampukan mereka untuk hidup bermartabat dan aman

Pengungsi: Sebuah Peluang untuk Tumbuh Bersama

Jika kita sebagai keluarga manusia bersikeras untuk memandang pengungsi hanya sebagai beban, kita kehilangan peluang bagi solidaritas yang selalu menjadi peluang untuk saling belajar, saling memperkaya, dan saling menumbuhkan. Lanjutkan baca

Australia: menutup pintu di hadapan krisis kemanusiaan global

Yogyakarta, 20 November 2014. Dengan rasa sedih yang mendalam, Jesuit Refugee Service mengamati langkah mundur pemerintah Australia yang mengeluarkan sebuah perubahan kebijakan terhadap mereka yang sedang mencari perlindungan internasional di kawasan Asia Tenggara. Pada 18 November 2014, pemerintah Australia mengumumkan … Lanjutkan baca

Tanggap Darurat Gunung Kelud

Bersama dengan Komunitas Relawan Jogja Bersatu, JRS Indonesia mengambil bagian dalam respon emergency Gunung Kelud. Komunitas Relawan Jogja Bersatu sendiri adalah sebuah komunitas yang terdiri dari berbagai kelompok masyarakat, baik individu maupun mahasiswa di wilayah Yogyakarta, yang bersinergi dalam respon kebencanaan. Mereka hadir di lapangan untuk menemani, memberikan bantuan konseling, dan menyalurkan barang-barang yang sangat dibutuhkan. Dalam hal ini, JRS Indonesia memberikan support dana untuk kebutuhan operasional dan belanja barang, dan kehadiran di lapangan selama 2 hari, yaitu di tanggal 26-27 Februari 2014. Lanjutkan baca

33 Tahun Berlalu, Kebutuhan Pengungsi Menjadi Lebih Besar daripada Sebelumnya

Merayakan 33 tahun berada bersama dan melayani pengungsi, JRS ingin mendorong Anda untuk menebarkan keramahtamahanan dan dukungan kepada saudara-saudara kita yang ada di sini, yakni para pengungsi yang sedang mencari perlindungan. Lanjutkan baca

Vatikan: Paus Fransiskus Menyerukan Keramahtamahan dan Keadilan dalam Kunjungan ke Jesuit Refugee Service

“Memberikan sandwich itu tidaklah cukup jika tidak disertai dengan kemungkinan untuk belajar berdiri di atas dua kaki sendiri. Amal kasih yang tidak mengubah situasi orang miskin, tidaklah cukup. Belas kasih sejati, yang telah diberikan dan diajarkan oleh Allah kepada kita, menuntut keadilan dan cara agar orang miskin dapat menemukan jalan keluar dari kemiskinan.” Lanjutkan baca

JRS Bergabung dalam Seruan Lintas-Iman bagi Perlindungan terhadap Pengungsi

Jesuit Refugee Service bersama dengan badan PBB urusan Pengungsi (UNHCR) dan perwakilan dari sejumlah organisasi berbasis agama menyerukan perlindungan yang lebih besar bagi para Pengungsi.

Deklarasi multi bahasa setebal 16 halaman, yang dikenal sebagai sebuah Penegasan tentang Keramahan, merupakan yang pertama kali melibatkan UNHCR dan spektrum organisasi-organisasi berbasis agama. Lanjutkan baca

Penemanan JRS Indonesia bagi Pengungsi dan Pencari Suaka 2013

Pada bulan Mei 2013 JRS membantu SUAKA menyelenggarakan pertemuan singkat dengan para Diplomat tentang situasi Pengungsi dan Pencari Suaka di Indonesia. SUAKA dan JRS terlibat dalam Diskusi Kelompok Terfokus di kantor Komisi Nasional Hak Asasi Manusia yang mendiskusikan dan mendorong agar Pemerintah Indonesia meratifikasi konvensi tentang Status Pengungsi dan protokolnya. SUAKA terus memberikan bantuan hukum dan penemanan kepada Pencari Suaka yang sebagian besar merupakan rujukan dari JRS dalam proses Penentuan Status Pengungsi mereka. Saat ini system rujukan yang lebih komprehensif telah dikembangkan dalam kerjasama antara JRS dan SUAKA. Lanjutkan baca

Futsal

Minggu, 9 September 2012, malam. Dua belas orang laki-laki Afrika berjalan menuju ke suatu toko yang agak besar di Cipayung. Mereka itu pencari suaka yang berasal dari Somalia, Sudan, dan Ethiopia. Tempat tujuan mereka ada di lantai tiga di toko … Lanjutkan baca

Ulang tahun JRS Indonesia ke-31

Yogyakarta, 14 November 2011 – 31 tahun bukanlah waktu yang pendek untuk mengukur kehidupan. Selama 31 tahun perjalanan, JRS bangga akan warisan semangat dari Pedro Arrupe yang menggugah keprihatinan orang akan adanya pengungsi. Tahun ini, JRS Indonesia merayakan ulang tahunnya yang ke-31 dengan banyak cara yang sederhana. Lanjutkan baca

Hari Pengungsi Sedunia 2009

Dalam peringatan Hari Pengungsi Sedunia tanggal 20 Juni yang lalu, sekitar 50 orang termasuk dosen dan mahasiswa dari Indonesia, Thailand dan Burma/Myanmar berkumpul di Universitas Sanata Dharma Yogyakarta atas undangan JRS untuk menyaksikan sebuah film yang menggambarkan pengalaman dan tantangan yang dihadapi oleh para pengungsi di negara asal mereka dan di negara suaka (Malaysia). “Secara pribadi saya menghargai semua orang yang membantu mereka (pengungsi) dan menerimanya di negara mereka… mereka ini melarikan diri dan suara mereka menyentuh setiap kita,” ujar Lorence, mahasiswa asal Myanmar/Burma yang masih tersentuh dengan kisah yang disampaikan lewat film tersebut. Lanjutkan baca